Pencarian Data


DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. lahir di Kuningan, Jawa Barat 07 Mei 1969, dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid. Anies merupakan cucu dari pejuang kemerdekaanAbdurrahman Baswedan. Ia dikenal sebagai akademisi, ia mengintisari program Indonesia Pintar pada tahun 2007. Lewat program ini, Anies merekrut anak-anak muda lulus kuliah untuk disebar ke seantero pelosok tanah air dalam rangka memberikan pendidikan kepada anak-anak kurang beruntung. Program tersebut masih berjalan hingga saat ini.

Anies mulai mengenyam bangku pendidikan pada usia 5 tahun. Saat itu, ia bersekolah di TK Masjid Syuhada. Menginjak usia 6 tahun, Anies masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta. Di masa kecilnya, Anies dikenal dengan sebagai seseorang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Setelah lulus SD, Anies diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Dia bergabung dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya, dan menduduki jabatan sebagai pengurus bidang humas yang dijuluki sebagai “seksi kematian”, karena tugasnya mengabarkan kematian. Anies juga pernah ditunjuk menjadi ketua panitia tutup tahun di SMP-nya.

Lulus dari SMP, Anies meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Dia tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus orang Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Progam ini membuatnya menempuh masa SMA selama 4 tahun dan baru lulus pada tahun 1989.

Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan dibidang jurnalistik. Ia bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional. Tahun 1989-1995, Anies kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ia diterima masuk di Fakultas Ekonomi. Saat kuliah, ia aktif berorganisasi dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI UGM.

Di fakultasnya, Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran Kembali Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dia terpilih menjadi Ketua Senat Universitas pada kongres tahun 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan. Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai Lembaga legislative yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993. Masa kepemimpinannya juga ditandai dengan dimulainya Gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus BPPC yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra. Anies turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.

Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa di JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan. Tahun 1997-2005, setelah lulus kuliah Anies bekerja di pusat Antar Universitass Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fullbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada tahun 1998.

Sesaat setelah lulus dari Maryland, Anies Kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Nothern Illinois University pada tahun 1999. Dia bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and policy Studies di kampusnya, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi dalam bidang ilmu politik pada tahun 2004. Dia lulus pada tahun 2005.

Dalam berbagai kesempatan, Anies Baswedan selalu mengatakan ada tiga hal yang ia jadikan pedoman dalam memilih karier. Apakah secara intelektual dapat tumbuh, apakah masih dapat menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, apakah mempunyai pengaruh sosial.

Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan menemui momen penting dalam kariernya. Ia dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina, menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid atau biasa disapa dengan Cak Nur, yang juga merupakan pendiri Universitas Paramadina. Anies dilantik sebagai rector termuda di usia 38 tahun untuk memimpin Universitas Paramadina. Di tangannya, ia berhasil menata Universitas Paramadina. Anies menerapkan kebijakan rekrutmen anak-anak terbaik Indonesia, yang selanjutnya menjadi cikal-bakal Paramadina Fellowship.

Selepas menjadi rector, Anies bergabung dalam tim pemenangan Jokowi-JK pada pilpres 2014. Setelah Jokowi terpilih, ia mendapat Amanah sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Kabinet Indonesia Kerja sejak 26 Oktober 2014. Di tengah masa tugasnya, ia digantikan oleh Muhadjir effendy dalam perombakan cabinet pada 27 Juli 2016. Ia menyebut masa baktinya “dicukupkan”.

Menjelang penetapan peserta Pilkada DKI Jakarta, Anies diminta oleh Prabowo Subianto maju sebagai calon Gubernur. Ia diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang dipasangkan dengan Sandiaga Salahudin Uno sebagai calon Wakil Gubernur mendampingi Anies. Anies-Sandi memenangkan Pilkada DKI 2017 lewat mekanisme pemilihan dua putaran.

 

Gambar 1.1Pelantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara tahun 2017

 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merilis setidaknya 31 pencapaian dalam satu tahun pertama Anies Baswedan memimpin Ibu Kota. Diantaranya menghentikan reklamasi Teluk Jakarta, ia mencabut izin 13 pulau reklamasi di Teluk Jakarta sekaligus memastikan reklamasi dihentikan, dan pulau yang sudah ada akan dikelola untuk kepentingan masyarakat. Kemudian program rumah dengan uang muka nol rupiah, peluncuran sarana transportasi terintegrasi Jak Lingko, yang merupakan hasil perubahan One Karcis Trip (OK Trip). Ada 11 operator bus kecil bergabung dalam program yang telah melayani 33 trayek itu. Lalu perluasan manfaat Kartu Jakarta Pintar (KJP) menjadi KJP Plus yang telah diberikan kepada ratusan ribu siswa di DKI Jakarta. Membangun jembatan penghubung atau skybridge di Tanah Abang. Pencapaian peserta Jaminan Kesehatan Semesta DKI Jakarta mencapai 98 persen, dan membangun fasilitas publik ramah disabilitas berupa trotoar dan penyebrangan sebidang atau pelican crossing.