Artikel DISPUSIP DKI Jakarta
Pencarian Data


Jumat, 21 Agustus 2026 | Ruly Diah Kurniawati 15x

Mulai 1 Agustus 2026, wajah pengelolaan sampah Jakarta berubah drastis. Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang resmi tidak lagi menerima sampah dalam kondisi tercampur. Hanya sampah residu yang benar benar sudah tidak bisa didaur ulang maupun diolah kembali yang boleh masuk ke Bantar Gebang. Kebijakan ini menjadi tamparan keras bagi seluruh warga untuk mengubah kebiasaan membuang sampah yang telah berlangsung puluhan tahun.
Perubahan besar ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga negara tanpa terkecuali perpustakaan. Perpustakaan Jakarta Selatan mulai menginisiasikan program literasi dan edukasi pilah sampah sebagai bentuk kontribusi nyata mendukung kebijakan pemerintah dan menyelamatkan pengelolaan sampah di Jakarta.

Kebijakan penghentian penerimaan sampah campur ini bermulai dari kondisi yang sangat mendesak. Setiap hari, Bantar Gebang menerima sekitar 7.000 hingga 7.500 ton sampah, setara dengan berat lebih dari 30 pesawat Boeing747 dalam kondisi penuh, sehingga gunungan sampah di lokasi tersebut telah mencapai batas ketinggian lebih dari 50 meter, setinggi belasan gedung dan sangat rawan longsor saat hujan deras. Kekhawatiran ini benar adanya pada 8 Maret 2026 terjadi longsor gunungan sampah zona IV TPST Bantar Gebang yang menewaskan beberapa korban jiwa. Tragedi ini menjadi bukti bahwa metode open dumping atau penimbunan terbuka yang selama puluhan tahun diterapkan sudah tak dapat digunakan.
Perpustakaan memiliki peran yang cukup strategis sebagai lembaga yang menjangkau semua lini usia, netral, dan dapat dipercaya masyarakat sebagai pusat edukasi. Perpustakaan memiliki posisi unik untuk untuk menjembatani kebijakan pemerintah dengan merubah kebiasaan sehari-hari warga. Ada beberapa alasan mengapa perpustakaan relevan mengambil peran dalam mendukung kebijakan pengelolaan Jakarta. Pertama, kebijakan membutuhkan perilaku, bukan sekedar aturan tertulis sahaja. Perubahan kebiasaan masyarakat memerlukan pendampingan intensif dan berkelanjutan, ini sesuatu yang bisa difasilitasi perpustakaan melalui program rutin. Kedua, perpustakaan menjangkau generasi muda sejak dini, sehingga anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak kecil akan membawa kebiasaan itu hingga dewasa dan budaya pilah sampah dapat tumbuh secara alamiah. Ketiga, perpustakaan memiliki ruang fisik yang bisa digunakan sebagai sarana dan prasarana praktik nyata memilah sampah, bukan hanya sekedar teori.

Dalam mewujudkan program literasi dan edukasi pilah sampah, Perpustakaan Jakarta Selatan mengusung pendekatan yang interaktif dan menyenangkan melalui metode story telling. Metode ini dipilih karena dianggap efektif untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan, khususnya mengenai pentingnya memilah sampah, kepada berbagai kalangan usia, terutama anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Melalui cerita yang dikemas secara kreatif, narasumber dapat menggambarkan dampak sampah terhadap lingkungan serta manfaat dari kebiasaan memilah sampah sejak dini dengan cara yang mudah dipahami dan tidak membosankan. Pendekatan naratif semacam ini juga membantu membangun kesadaran emosional peserta, sehingga pesan yang disampaikan lebih membekas dan berpotensi mendorong perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Selain story telling, Perpustakaan Jakarta Selatan juga menyelenggarakan kegiatan workshop yang dipandu langsung oleh narasumber yang kompeten di bidang pengelolaan sampah dan lingkungan. Dalam workshop ini, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak untuk praktik langsung dalam memilah sampah sesuai kategorinya, seperti sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya. Kombinasi antara story telling dan workshop ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih komprehensif, karena peserta mendapatkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis.
Langkah yang dilakukan Perpustakaan Jakarta Selatan ini memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang responsif terhadap isu-isu aktual kota, tidak hanya soal buku semata, tetapi juga soal keberlanjutan lingkungan tempat kita semua tinggal.

©️ 2026 Perpustakaan Jakarta Selatan

Penulis : Muhammad Febryansyah

Perpustakaan Wisata Literasi Literasi Lingkungan

Rabu, 19 Agustus 2026 | Haris Budiman 42x

Menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027, berbagai bangunan bersejarah menjadi penanda penting perjalanan kota yang telah mengalami beragam perubahan politik, sosial, dan tata pemerintahan. Salah satu di antaranya adalah Istana Negara, sebuah bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan kenegaraan, tetapi juga merupakan artefak sejarah yang merekam transformasi Jakarta dari pusat administrasi kolonial Hindia Belanda menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Berlokasi di Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Istana Negara telah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa. Perubahan fungsi, pemanfaatan ruang, hingga berbagai peristiwa kenegaraan yang berlangsung di dalamnya mencerminkan dinamika perjalanan Indonesia dari masa kolonial, pendudukan Jepang, masa revolusi kemerdekaan, hingga era pemerintahan modern. Sebagai bagian dari Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, bangunan ini memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan kearsipan yang tinggi karena berkaitan erat dengan penyelenggaraan pemerintahan negara.

Awal Pembangunan (1796–1804)

Sejarah Istana Negara bermula pada 1796, ketika seorang saudagar sekaligus pejabat Belanda bernama Jacob Andries van Braam membangun sebuah rumah peristirahatan bergaya neoklasik di kawasan Rijswijk (kini Jalan Veteran). Pembangunan dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai sekitar 1804, pada masa Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Bangunan ini pada awalnya merupakan rumah tinggal pribadi, bukan gedung pemerintahan.

Arsitektur bangunan mengadopsi gaya Indies Empire Style, yang memadukan pengaruh arsitektur klasik Eropa dengan penyesuaian terhadap iklim tropis Hindia Belanda. Ciri khasnya terlihat pada deretan pilar besar bergaya Yunani, langit-langit yang tinggi, serta serambi luas untuk memperlancar sirkulasi udara.

Beralih Menjadi Pusat Pemerintahan Kolonial

Pada 1816, setelah pemerintahan Inggris berakhir dan Hindia Belanda kembali dikuasai Belanda, bangunan ini diambil alih oleh pemerintah kolonial. Fungsinya berubah menjadi kediaman resmi sekaligus pusat administrasi para Gubernur Jenderal Hindia Belanda, sehingga dikenal dengan sebutan Hotel van den Gouverneur-Generaal atau Hotel Gubernur Jenderal.

Di bangunan ini lahir sejumlah kebijakan penting pada masa kolonial. Salah satunya adalah pembahasan strategi militer menghadapi Perang Diponegoro dan perumusan kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada abad ke-19. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadikan Istana Negara sebagai salah satu pusat pengambilan keputusan paling penting di Hindia Belanda.

Renovasi Besar Tahun 1848

Bentuk Istana Negara yang kita kenal sekarang berbeda dengan bentuk aslinya. Pada awal pembangunannya, gedung ini terdiri atas dua lantai. Namun pada 1848, pemerintah kolonial melakukan renovasi besar-besaran dengan menghilangkan lantai atas dan memperlebar bagian depan bangunan agar tampil lebih megah dan representatif sebagai pusat pemerintahan. Pada saat yang sama, dibangun pula bangunan pendukung bagi ajudan dan staf pemerintahan.

Perubahan tersebut menghasilkan tampilan khas Istana Negara saat ini, dengan fasad simetris dan deretan 14 pilar bergaya Palladian yang menjadi salah satu ikon arsitektur kolonial di Jakarta.

Masa Kemerdekaan Indonesia

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Istana Negara mulai digunakan sebagai bagian dari kompleks Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Bangunan ini menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa, di antaranya:

  • Penandatanganan Persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947, yang diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir dari pihak Indonesia dan Hubertus J. van Mook dari pihak Belanda.
  • Pertemuan-pertemuan diplomatik pada masa Revolusi Kemerdekaan.
  • Pelantikan pejabat tinggi negara.
  • Jamuan kenegaraan bagi kepala negara dan tamu resmi dari berbagai negara.
  • Berbagai kegiatan resmi Presiden Republik Indonesia.

 

Fungsi Istana Negara Saat Ini

Saat ini, Istana Negara merupakan bagian dari Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, yang juga meliputi Istana Merdeka, Bina Graha, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan.

Berbeda dengan Istana Merdeka yang menghadap ke kawasan Monumen Nasional (Monas), Istana Negara menghadap ke Jalan Veteran. Kedua bangunan dihubungkan oleh halaman tengah dan memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam penyelenggaraan kegiatan kepresidenan.

Di Istana Negara rutin diselenggarakan:

  • Pelantikan menteri dan pejabat negara.
  • Penyerahan surat kepercayaan duta besar negara sahabat.
  • Jamuan makan malam kenegaraan.
  • Upacara kenegaraan tertentu.
  • Pertemuan resmi Presiden dengan tamu negara.
Kearsipan

Jumat, 14 Agustus 2026 | Ruly Diah Kurniawati 24x

Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-81, Perpustakaan Jakarta Selatan berkolaborasi dengan SDN Kramat Pela 07 akan mengadakan Pekan Literasi Kemerdekaan! 🎉

Kira-kira akan ada kegiatan apa saja yaa?
Jangan sampai terlewat untuk melihat keseruannya ya!
Salam Literasi✨
#SedekatItu
#PerpustakaanJakartaSelatan
#GandariaTengah
#HUTRI

Perpustakaan Literasi

Senin, 10 Agustus 2026 | Haris Budiman 60x

Kalibaru, Cilincing — Kumpulan foto dokumentasi tahun 1974 ini merekam denyut kehidupan kampung nelayan di pesisir utara Jakarta, sebelum kawasan itu berubah menjadi jantung industri dan pelabuhan modern.

Sebelum menjadi kawasan padat industri dan pelabuhan modern seperti sekarang, Kalibaru di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, adalah kampung nelayan yang riuh oleh suara ombak, deretan perahu layar, dan tawa anak-anak pesisir. Sederet foto hitam-putih dari tahun 1974 berikut ini merekam potret keseharian itu. Momen sederhana namun sarat makna dari sebuah kampung yang hidup dari laut.

Seorang nelayan memanggul pikulan berisi keranjang hasil tangkapan, diapit rekan-rekannya yang baru merapat dari laut. Kalibaru, Cilincing, 1974.

Kampung yang Lahir dari Laut

Kalibaru bukan sekadar permukiman biasa. Sejak dekade 1960-an, kawasan ini dikenal sebagai pelabuhan ikan yang menggantikan pelabuhan ikan Kali Kresek Lahoa yang ditutup pada 1967, terbagi menjadi Kalibaru Timur dan Kalibaru Barat. Di pelabuhan Kalibaru inilah aktivitas pendaratan, pelelangan, hingga bongkar muat dan pemasaran ikan berlangsung setiap hari. Bahkan, pada masa kejayaan jaring pukat harimau (trawl), pelabuhan ini tergolong sangat ramai karena letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan kayu dan proyek pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok.

Secara historis, kampung nelayan di kawasan Cilincing termasuk Kalibaru telah ada sejak tahun 1920-an, dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari hasil laut. Pola permukiman mereka umumnya memanjang mengikuti garis pantai, dengan rumah-rumah kayu sederhana yang berjejer di tepi sungai dan muara.

Deretan perahu layar besar berjejer di muara sungai, sementara perahu-perahu kecil hilir mudik membawa penumpang dan hasil laut. Kalibaru, Cilincing, 1974.

Menatap Foto Tahun 1974

Dalam salah satu foto, tampak seorang nelayan muda tersenyum lebar sambil memanggul pikulan bambu berisi keranjang anyaman penuh muatan hasil tangkapan, diapit rekan-rekannya yang baru saja merapat dari laut. Ekspresi wajahnya basah oleh keringat dan air laut, menggambarkan kelegaan khas nelayan yang pulang membawa rezeki.

Foto lain memperlihatkan deretan perahu layar besar berjejer rapat di muara sungai, tali-temali dan tiang layarnya menjulang saling silang di langit pagi. Di sela-sela kapal besar itu, perahu-perahu kecil hilir mudik membawa penumpang dan barang, sementara di tepian, tumpukan terumbu karang dan sampah laut menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap pesisir kala itu.

Atas: nelayan menyeret perahu dari tengah ombak menuju bibir pantai. Bawah: kampung nelayan di tepi kanal, rumah-rumah beratap rumbia berdampingan dengan perahu yang ditambatkan di depan rumah.

Ada pula gambar nelayan yang tengah menyeret perahu kecil dari tengah ombak menuju bibir pantai, sebuah kerja keras kolektif yang menjadi rutinitas harian sebelum dermaga modern dibangun. Dan potret kampung di tepi kanal, di mana rumah-rumah beratap rumbia berdiri berdampingan dengan perahu-perahu yang ditambatkan tepat di depan pintu rumah, menunjukkan betapa menyatunya kehidupan warga dengan air.

Atas: bebatuan karang di garis pantai yang menahan hempasan ombak. Bawah: kapal-kapal nelayan bersandar rapat di dermaga, siap berlayar mencari hasil laut.

Dari Kampung Nelayan ke Jantung Industri

Wajah Kalibaru dan Cilincing kini telah banyak berubah. Pada 1971, pengusaha Sudono Salim mendirikan pabrik tepung Bogasari di wilayah Kalibaru, menjadi salah satu penanda mulai bergesernya kawasan ini ke arah industri. Meski demikian, jejak masa lalu belum sepenuhnya hilang. Aktivitas nelayan masih bertahan di beberapa titik dan tradisi pesisir tetap hidup di tengah modernisasi kawasan.

Foto-foto dari tahun 1974 ini menjadi pengingat berharga: bahwa di balik hiruk-pikuk truk kontainer dan gudang logistik yang kini mendominasi Cilincing, pernah ada dan sebagian masih ada, kampung nelayan yang sederhana, keras, namun penuh kehangatan. Wajah-wajah nelayan yang tersenyum di depan lensa kamera puluhan tahun lalu adalah saksi bisu dari sebuah era ketika laut masih menjadi sumber kehidupan utama warga Kalibaru.

Kalibaru dalam Perjalanan Jakarta Menuju 5 Abad

Rekaman kehidupan pesisir Kalibaru tahun 1974 ini muncul kembali di saat yang bermakna: Jakarta tengah bersiap menyambut usianya yang ke-500 tahun, atau lima abad, pada 2027. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah meluncurkan logo peringatan lima abad dan mulai menyusun kalender kegiatan berskala internasional sepanjang tahun 2027 untuk merayakan momentum tersebut. Di tengah gegap-gempita perayaan menuju kota global itu, kampung nelayan seperti Kalibaru menjadi pengingat penting bahwa jauh sebelum Jakarta dikenal sebagai pusat bisnis dan pelabuhan modern, kehidupan pesisirnya sudah menjadi bagian dari denyut nadi kota, sepotong sejarah kecil yang ikut membentuk perjalanan panjang ibu kota menuju usia lima abad.

Kearsipan Wisata Literasi Jakarta story telling dispusip

Senin, 3 Agustus 2026 | Haris Budiman 45x

Dispusip Jakarta, Indonesia - Banyak orang menganggap arsip hanyalah tumpukan kertas usang yang memenuhi ruangan. Padahal, arsip adalah urat nadi sebuah organisasi dan tulang punggung sejarah suatu bangsa. Di era yang bergerak serba cepat ini, merawat arsip bukan lagi sekadar urusan menyimpan dokumen, melainkan langkah strategis untuk menjamin kepastian hukum, melindungi hak perdata, dan memastikan kelancaran administrasi di masa yang akan datang.

 

Arsip yang dikelola dengan baik adalah bukti rekam jejak yang tak terbantahkan. Tanpa sistem kearsipan yang mumpuni, sebuah institusi akan kehilangan arah karena hilangnya memori kelembagaan. Jika suatu saat terjadi sengketa, bencana, atau kebutuhan audit, arsip fisik maupun digital yang terawat adalah satu-satunya instrumen yang bisa memberikan jawaban pasti dan objektif. Pentingnya merawat arsip ini tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi telah diikat oleh landasan hukum yang kuat, baik di tingkat nasional maupun daerah.

 

Di tingkat nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) telah menetapkan standar yang ketat. Berdasarkan Peraturan Kepala (Perka) ANRI Nomor 9 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemeliharaan Arsip Dinamis, pemeliharaan arsip merupakan tahapan krusial yang tidak boleh diabaikan. Peraturan ini menjabarkan beberapa alasan fundamental mengapa arsip dinamis (arsip yang masih digunakan langsung dalam kegiatan pencipta arsip) wajib dirawat secara sistematis:

  1. Menjamin Keautentikan: Perawatan yang tepat memastikan bahwa dokumen tidak diubah, dipalsukan, atau disalahgunakan, sehingga nilai pembuktiannya di mata hukum tetap sah.
  2. Menjaga Keutuhan Informasi: Tata cara pemberkasan dan penataan yang terstandar mencegah hilangnya lembaran penting dari sebuah kesatuan dokumen.
  3. Keamanan dan Keselamatan: Dokumen dilindungi dari ancaman fisik seperti kelembapan, hama, kebakaran, hingga akses dari pihak-pihak yang tidak berwenang.

Peraturan Kepala (Perka) ANRI Nomor 9 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemeliharaan Arsip Dinamis 

Sumber: https://peraturan.bpk.go.id/Details/194322/peraturan-anri-no-9-tahun-2018

 

Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, Provinsi DKI Jakarta memiliki kompleksitas administrasi yang sangat tinggi. Kesadaran akan pentingnya arsip ini tertuang dengan sangat jelas dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kearsipan Daerah.

 

Peraturan ini tidak hanya mengadopsi standar nasional, tetapi juga menyesuaikannya dengan kebutuhan dan tantangan ibu kota. Berikut adalah poin-poin utama mengapa Pemprov DKI Jakarta mewajibkan pengelolaan arsip yang ketat:

  1. Arsip Sebagai Instrumen Vital (Pasal 25 & 31): Perda ini menggarisbawahi pentingnya "Arsip Vital", yaitu dokumen yang menjadi prasyarat kelangsungan operasional pencipta arsip dan tidak dapat digantikan jika rusak atau hilang. Pemeliharaannya menjadi tanggung jawab kepala unit kearsipan guna memastikan roda pemerintahan tetap berjalan dalam situasi apa pun.
  2. Mitigasi Bencana (Pasal 40): Jakarta memiliki risiko bencana alam seperti banjir. Peraturan ini secara khusus mengamanatkan program pelindungan dan penyelamatan arsip dari bencana. Tanpa perawatan dan penataan yang terpusat serta aman, kerugian akibat bencana tidak hanya berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga hilangnya data penting masyarakat.
  3. Pelayanan Publik yang Optimal (Pasal 23): Pengelolaan yang baik (termasuk penggunaan sistem klasifikasi dan akses arsip) diwajibkan agar instansi dapat menyediakan informasi secara cepat dan tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan, sesuai dengan standar pelayanan minimal.

 

Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kearsipan Daerah

Sumber: https://peraturan.bpk.go.id/Details/336171/perda-prov-dki-jakarta-no-4-tahun-2017

 

Kedua payung hukum di atas—baik Perka ANRI maupun Perda DKI Jakarta—juga telah mengantisipasi masa depan kearsipan melalui proses alih media (digitalisasi). Perda DKI Jakarta No. 4 Tahun 2017 Pasal 33 secara eksplisit mewajibkan pencipta arsip untuk melaksanakan alih media guna melindungi fisik dokumen asli yang rentan rusak dimakan usia, sekaligus mempercepat proses temu-kembali informasi di era modern.

 

Pada akhirnya, merawat arsip adalah menjaga jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mari jadikan pengelolaan arsip sebagai budaya, termasuk melalui digitalisasi arsip. Karena menyelamatkan arsip hari ini sama dengan menyelamatkan hak generasi mendatang. Sebagai wujud nyata komitmen ini, Dispusip Jakarta juga menghadirkan layanan arsip keluarga untuk penyelamatan arsip vital masyarakat.

Kearsipan

Senin, 29 Juni 2026 | Noor Muchyadi 2x

Jakarta Pusat, 23 Juni 2026 - Dalam rangka mendukung peningkatan budaya baca dan memperluas akses literasi bagi masyarakat, Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Pusat melalui Perpustakaan Jakarta Pusat - Petojo Enclek kembali menunjukkan komitmennya dengan menghadirkan layanan perpustakaan keliling atau MOLI (Mobil Literasi) pada kegiatan JUMTEK (Jumbara PMR dan Temu Karya) PMI Kota Jakarta Pusat 2026. 

Kegiatan JUMTEK PMI Kota Jakarta Pusat diselenggarakan pada 23–25 Juni 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepalangmerahan, kepemimpinan dan kreativitas, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai situasi kemanusiaan. JUMTEK diikuti oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR) Mula, Madya, dan Wira, para pembina PMR, serta relawan PMI.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut, Perpustakaan Jakarta Pusat menghadirkan layanan MOLI selama 2 hari, yaitu pada tanggal 23–24 Juni 2026, yang akan didampingi oleh petugas MOLI, Kak Iyan dan Kak Galeh.

Pada hari pertama pelaksanaan kegiatan, hari pertama pelaksanaan kegiatan, Selasa (23/6), peserta mengikuti sesi LiterAksi, sebuah aktivitas literasi interaktif yang dipandu oleh Kak Iyan dan Kak Galeh. Dalam kegiatan tersebut, Kak Iyan memperkenalkan dan membacakan beberapa koleksi buku yang terdapat di armada MOLI. Kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme ketika peserta diajak berinteraksi melalui cerita-cerita menarik yang disampaikan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi “Baca Seru Bersama MOLI” yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menikmati berbagai koleksi bacaan yang tersedia. Beragam koleksi buku anak dan remaja dimanfaatkan oleh peserta untuk mengisi waktu luang di sela-sela rangkaian kegiatan JUMTEK. Kehadiran Mobil Perpustakaan Keliling memberikan pengalaman membaca yang berbeda dan menyenangkan, sekaligus memperluas akses peserta terhadap bahan bacaan berkualitas.

Kepala Seksi Perpustakaan Jakarta Pusat, Noor Muchyadi, turut hadir meninjau layanan MOLI di lokasi kegiatan. Ia berharap kehadiran layanan perpustakaan keliling dapat menjadi sarana rekreasi edukatif sekaligus mendorong tumbuhnya kegemaran membaca di kalangan peserta.

ditulis oleh Reihaya dan Mia (Mahasiswa PKL dari Universitas Indonesia)

Perpustakaan Jakarta Pusat JUMTEK PMI

Selasa, 24 Februari 2026 | Suhaena 162x

Perpustakaan Jakarta Barat kembali menghadirkan inovasi literasi melalui program podcast bertema “Bincang Perpustakaan antar Generasi: Gen Milenial vs Gen Z”. Program ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan pengalaman lintas generasi dalam melihat peran dan perkembangan perpustakaan dari masa ke masa.

Podcast ini menghadirkan dua narasumber inspiratif yang telah lama berkecimpung dalam dunia literasi dan dongeng, yaitu Kak Palupi Mutiasih dan Kak Tuti Setiawaty. Kak Palupi Mutiasih dikenal sebagai pegiat literasi yang aktif mengembangkan budaya baca melalui kegiatan mendongeng. Ia merupakan Co-Founder Fun Garden of Literacy (FGL), sebuah komunitas yang berfokus pada penguatan literasi anak melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan. Selain itu, beliau juga berprofesi sebagai dosen, kerap dipercaya menjadi juri dalam berbagai lomba di bidang literasi, serta produktif menulis buku dan lagu anak yang menghadirkan pesan pembelajaran dan penguatan karakter.

Sementara itu, Kak Tuti Setiawaty merupakan pendongeng sekaligus guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang aktif dalam berbagai komunitas penggiat literasi. Melalui pengalaman mengajarnya, ia konsisten mendorong minat baca dan keterampilan bercerita pada peserta didik serta terlibat aktif dalam berbagai komunitas yang dapat meningkatkan literasi di masyarakat.

Kehadiran keduanya dalam podcast ini menjadi istimewa karena mereka mewakili dua generasi yang berbeda. Perbedaan latar belakang pengalaman dan perjalanan literasi tersebut menghadirkan beragam pandangan mengenai peran dan perkembangan perpustakaan dari masa ke masa. Dialog yang terbangun pun menjadi lebih dinamis, reflektif, dan kaya perspektif, sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih luas tentang bagaimana perpustakaan dimaknai oleh tiap generasi.

 

Perpustakaan dalam Lintasan Generasi

Dalam diskusi tersebut, para narasumber berbagi cerita tentang pengalaman mereka berinteraksi dengan perpustakaan sejak masa sekolah hingga saat ini. Mereka juga membahas bagaimana perubahan zaman, teknologi, serta kebiasaan membaca memengaruhi cara generasi berbeda memanfaatkan perpustakaan.

Tidak hanya membahas nostalgia, podcast ini juga menyoroti pentingnya perpustakaan sebagai ruang literasi yang adaptif terhadap kebutuhan generasi muda. Perpustakaan kini tidak hanya menyediakan koleksi bacaan, tetapi juga menghadirkan berbagai program kreatif yang terbuka bagi masyarakat.

Ruang Diskusi Literasi di Era Digital

Podcast ini dipublikasikan melalui kanal resmi YouTube Perpustakaan Jakarta Barat sebagai bentuk pemanfaatan media digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Melalui platform ini, perpustakaan berharap dapat menghadirkan konten literasi yang relevan, inspiratif, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perpustakaan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Dengan menghadirkan dialog lintas generasi, Perpustakaan Jakarta Barat berupaya memperkuat perannya sebagai ruang belajar, ruang berbagi cerita, sekaligus ruang tumbuh bagi seluruh lapisan masyarakat.

 

Penulis : Putra Ananda Rajagukguk, Luse Dotrika Aruan, Evlin Nehemia Harianja
Editor : Norma Tridiana

Perpustakaan Literasi

Selasa, 24 Februari 2026 | Suhaena 131x

Perpustakaan Jakarta Barat menghadirkan program wisata literasi bertajuk KECAPI (Kreasi, Eksplorasi, dan Cakap Berliterasi) sebagai upaya menumbuhkan minat baca dan kreativitas anak sejak dini. Program ini dirancang sebagai kegiatan edukatif yang menyenangkan, sekaligus memperkenalkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang ramah dan inspiratif bagi masyarakat.

KECAPI menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengenal dunia literasi melalui berbagai aktivitas interaktif. Tidak hanya sekadar membaca, peserta diajak untuk memahami bahwa literasi dapat dikembangkan melalui pengalaman yang menyenangkan dan penuh eksplorasi. KECAPI dapat diikuti oleh siswa jenjang TK/PAUD, SD, SMP dan SMA di Jakarta Barat. 

 

Mengenal Perpustakaan dengan Cara yang Seru

Kegiatan diawali dengan pengenalan layanan dan fasilitas Perpustakaan Jakarta Barat. Anak-anak diajak untuk mengenal koleksi buku, ruang baca, serta layanan yang ada di Perpustakaan Jakarta Barat. Salah satu koleksi spesial yang dimiliki Perpustakaan Jakarta Barat adalah buku pop up dan koleksi braille (buku untuk tuna netra). Melalui sesi ini, anak-anak diharapkan semakin dekat dengan perpustakaan dan menjadikannya sebagai tempat belajar yang menyenangkan dan ramah untuk disabilitas. 

Salah satu kegiatan yang paling dinantikan adalah sesi read aloud dan mendongeng. Dalam suasana yang hangat dan interaktif, peserta mendengarkan cerita yang dibacakan dengan ekspresif, kemudian diajak berdiskusi ringan tentang pesan moral dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Metode ini tidak hanya melatih kemampuan menyimak, tetapi juga membangun imajinasi dan keberanian anak untuk berpendapat.

 

Kreasi dan Eksplorasi Literasi

Sesuai dengan namanya, KECAPI juga menghadirkan berbagai kegiatan kreatif seperti mewarnai bersama, membuat jurnal membaca, serta aktivitas kreasi lainnya yang mendorong anak mengekspresikan pemahamannya terhadap buku yang telah dibaca. Kegiatan ini membantu anak mengembangkan keterampilan motorik halus sekaligus memperkuat daya ingat terhadap isi bacaan.

Pada sesi eksplorasi literasi, peserta diberikan kesempatan untuk memilih dan membaca buku koleksi Perpustakaan Jakarta Barat secara mandiri. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak belajar menemukan buku sesuai minatnya, sehingga kegiatan membaca terasa lebih personal dan menyenangkan.

 

Perpustakaan sebagai Ruang Tumbuh Literasi

Melalui program KECAPI, Perpustakaan Jakarta Barat menegaskan perannya sebagai pusat pembelajaran yang adaptif di tengah perkembangan zaman. Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga ruang tumbuh yang mendorong kreativitas, eksplorasi, dan kecakapan berliterasi sejak usia dini.

Program ini diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan yang memperkuat budaya baca di masyarakat, sekaligus menciptakan pengalaman literasi yang berkesan bagi setiap peserta yang berkunjung.


Penulis : Putra Ananda Rajagukguk, Luse Dotrika Aruan, Evlin Nehemia Harianja
Editor : Norma Tridiana

Literasi Wisata Literasi story telling Dongeng

Kamis, 29 Januari 2026 | Administrator 147x

Hasil pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Provinsi DKI Jakarta yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa 82,26% warga DKI Jakarta merasa senang saat membaca buku. Hal ini selaras dengan kecenderungan 89,99% responden yang mengaku bahwa mereka membaca atas kemauan pribadi tanpa ada paksaan dari pihak lain.

 

Sumber: Laporan Akhir Hasil Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2025

 

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta kembali melakukan pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dan terus mencatat peningkatan indeks literasi dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan, tingkat kegemaran membaca di DKI Jakarta memperoleh skor 73,26 atau meningkat 0,33 poin dari tahun sebelumnya yaitu 72,93. Angka tersebut mencerminkan kuatnya budaya literasi dan partisipasi aktif masyarakat dalam aktivitas membaca. Dari 2.538 responden yang menjadi sampel, 82,26% responden merasa senang saat membaca buku dan mengaku bahwa aktivitas tersebut dilakukan atas kemauan pribadi tanpa ada paksaan dari pihak lain. Kesenangan akan membaca ini dapat menjadi fondasi terciptanya budaya literasi masyarakat.

Pengukuran TKM kali ini mengacu pada Peraturan Perpusnas RI Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca. Berdasarkan peraturan tersebut, terdapat perubahan signifikan terhadap dimensi yang membentuk tingkat kegemaran membaca masyarakat. Sebelumnya, pengukuran dilakukan dengan menggunakan 5 dimensi yaitu frekuensi membaca, durasi membaca, jumlah bahan bacaan, frekuensi akses internet, dan durasi akses internet. Tahun ini, pengukuran dilakukan dengan 3 dimensi saja, yaitu fase pra membaca, fase saat membaca, dan fase pasca membaca. Masing-masing dimensi tersebut terdiri dari berbagai variabel dan indikator yang dibentuk untuk memberi gambaran kegemaran membaca masyarakat secara lebih komprehensif.