Berita
Data Terpilah Gender Ungkap Pola Pegawai dan Pengunjung Perpustakaan di Jakarta Barat
Suhaena
•
Kamis, 2 April 2026
Penyediaan data terpilah gender merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung perencanaan dan evaluasi kebijakan yang responsif dan inklusif. Dalam konteks pelayanan publik, data ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi statistik, tetapi juga sebagai dasar untuk memahami kesenjangan, kebutuhan, serta potensi partisipasi antara laki-laki dan perempuan.
Data terpilah gender dari Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Barat menunjukkan dinamika menarik, baik dari sisi komposisi pegawai maupun profil pengunjung perpustakaan daerah sepanjang 2024–2025. Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di Jakarta Barat berkomitmen untuk menghadirkan layanan perpustakaan yang adil dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengumpulan dan penyajian data terpilah gender, baik dari sisi sumber daya manusia maupun pengguna layanan perpustakaan.
Melalui data ini, dapat diidentifikasi bagaimana komposisi pegawai berdasarkan gender, tingkat partisipasi masyarakat dalam mengakses layanan perpustakaan, serta distribusi pengunjung berdasarkan kelompok usia. Informasi tersebut menjadi penting untuk menilai sejauh mana prinsip kesetaraan gender telah terintegrasi dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan.
Komposisi Pegawai: Ketimpangan pada Tenaga PJLP
Data komposisi pegawai Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Barat terlaihat melalui data berikut ini :
Tabel Pegawai Sudin Pusip Jakarta Barat
Status Pegawai
Laki-laki
Perempuan
ASN
13
11
PJLP
31
9
Berdasarkan data pegawai Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di Jakarta Barat menunjukkan adanya perbedaan komposisi antara pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan status kepegawaian.
Pada kategori Aparatur Sipil Negara (ASN), komposisi pegawai relatif seimbang. Tercatat terdapat 13 pegawai laki-laki dan 11 pegawai perempuan. Selisih yang tidak signifikan ini mengindikasikan bahwa prinsip kesetaraan gender dalam pengisian jabatan ASN sudah mulai terwujud, dengan peluang yang cukup adil bagi laki-laki maupun perempuan untuk berpartisipasi dalam struktur organisasi formal.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada kategori Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP). Dari total pegawai PJLP, sebanyak 31 orang adalah laki-laki, sedangkan hanya 9 orang perempuan. Ketimpangan ini menunjukkan dominasi laki-laki yang cukup tinggi pada jenis pekerjaan non-ASN. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti karakteristik pekerjaan yang lebih banyak diminati atau diakses oleh laki-laki, keterbatasan kesempatan bagi perempuan, maupun faktor sosial dan budaya yang memengaruhi partisipasi tenaga kerja.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa meskipun keseimbangan gender telah mulai tercapai pada level ASN, masih terdapat kesenjangan yang cukup besar pada tenaga kerja PJLP. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut untuk mendorong peningkatan partisipasi perempuan, khususnya pada kategori pekerjaan non-ASN, melalui kebijakan yang lebih inklusif, responsif gender, serta membuka akses dan kesempatan kerja yang setara bagi semua pihak.
Jumlah Pengunjung Meningkat, Partisipasi Perempuan Menguat
Jumlah pengunjung perpustakaan mengalami peningkatan signifikan dari 2024 ke 2025, hal ini tergambar melalui data berikut ini :
Tabel Pengunjung Perpustakaan
Tahun
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
2024
13.902
11.453
25.355
2025
16.407
15.899
32.306
Pada tahun 2024, jumlah pengunjung tercatat sebanyak 25.355 orang, dengan komposisi 13.902 laki-laki dan 11.453 perempuan. Data ini menunjukkan bahwa pengunjung laki-laki masih mendominasi dengan selisih sekitar 2.449 orang dibandingkan perempuan.
Memasuki tahun 2025, terjadi peningkatan jumlah pengunjung yang cukup signifikan menjadi 32.306 orang. Kenaikan ini tidak hanya terjadi secara umum, tetapi juga terlihat pada kedua kelompok gender. Jumlah pengunjung laki-laki meningkat menjadi 16.407 orang, sementara pengunjung perempuan naik lebih tajam menjadi 15.899 orang.
Menariknya, kesenjangan gender pada tahun 2025 semakin menyempit secara signifikan. Jika pada tahun sebelumnya selisih mencapai ribuan, maka pada tahun 2025 perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanya sekitar 508 orang. Hal ini menunjukkan adanya tren positif menuju kesetaraan akses dan partisipasi dalam pemanfaatan layanan perpustakaan.
Peningkatan partisipasi perempuan ini dapat mengindikasikan bahwa program layanan perpustakaan semakin inklusif dan mampu menjangkau kebutuhan berbagai kelompok masyarakat. Selain itu, hal ini juga dapat mencerminkan meningkatnya minat literasi di kalangan perempuan.
Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan, di mana tidak hanya terjadi peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga perbaikan dalam keseimbangan gender. Ke depan, penting untuk terus mempertahankan bahkan memperkuat kebijakan dan program yang responsif gender guna memastikan akses layanan perpustakaan yang setara bagi seluruh masyarakat.
Kelompok Usia: Anak-anak Mendominasi, Remaja Perempuan Unggul
Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, anak-anak menjadi pengunjung terbanyak di kedua tahun. Namun, terdapat pergeseran menarik pada kelompok remaja.
Tabel Pengunjung Perpustakaan Berdasarkan Kelompok Usia Tahun 2024-2025
Kelompok Usia
Tahun 2024
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Anak-anak
7.496
4.735
12.231
Remaja
4.489
4.582
9.071
Dewasa
1.917
2.136
4.053
Total
25.355
Kelompok Usia
Tahun 2025
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Anak-anak
8.217
6.615
14.832
Remaja
5.069
6.035
11.104
Dewasa
3.121
3.249
6.370
Total
32.306
Analisis data terpilah gender berdasarkan kelompok usia pengunjung perpustakaan di Jakarta Barat menunjukkan dinamika partisipasi yang berbeda pada setiap kategori usia dalam periode 2024–2025.
Pada tahun 2024, kelompok anak-anak menjadi pengunjung terbanyak dengan total 12.231 orang, terdiri dari 7.496 laki-laki dan 4.735 perempuan. Hal ini menunjukkan dominasi laki-laki yang cukup signifikan pada usia anak-anak. Sementara itu, pada kelompok remaja, jumlah pengunjung relatif seimbang, dengan 4.489 laki-laki dan 4.582 perempuan, bahkan perempuan sedikit lebih unggul. Pada kelompok dewasa, partisipasi perempuan juga lebih tinggi, yaitu 2.136 dibandingkan 1.917 laki-laki.
Memasuki tahun 2025, terjadi peningkatan jumlah pengunjung di seluruh kelompok usia. Kelompok anak-anak tetap mendominasi dengan total 14.832 pengunjung, terdiri dari 8.217 laki-laki dan 6.615 perempuan. Meskipun laki-laki masih lebih banyak, terjadi peningkatan signifikan pada jumlah pengunjung perempuan, yang mengindikasikan mulai mengecilnya kesenjangan gender pada kelompok ini.
Pada kelompok remaja, tren dominasi perempuan semakin terlihat. Jumlah pengunjung perempuan mencapai 6.035 orang, lebih tinggi dibandingkan laki-laki sebanyak 5.069 orang. Hal ini menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dalam memanfaatkan layanan perpustakaan.
Sementara itu, pada kelompok dewasa, jumlah pengunjung juga meningkat dengan komposisi yang relatif seimbang, yakni 3.121 laki-laki dan 3.249 perempuan. Perempuan masih sedikit lebih unggul, yang menunjukkan konsistensi partisipasi perempuan pada kelompok usia ini.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa kelompok anak-anak merupakan pengguna terbesar layanan perpustakaan, namun dengan dominasi laki-laki. Di sisi lain, kelompok remaja dan dewasa justru menunjukkan kecenderungan partisipasi perempuan yang lebih tinggi. Tren ini mengindikasikan adanya pergeseran pola pemanfaatan layanan perpustakaan, di mana perempuan, khususnya pada usia remaja dan dewasa, semakin aktif dalam kegiatan literasi.
Ke depan, data ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan program layanan yang lebih responsif gender dan berbasis usia, misalnya dengan memperkuat program literasi anak perempuan serta mempertahankan dan mengembangkan minat baca di kalangan remaja dan dewasa, khususnya perempuan.
Menuju Layanan yang Lebih Inklusif
Berdasarkan analisis tiga kelompok data tentang komposisi pegawai, jumlah pengunjung, dan pengunjung berdasarkan kelompok usia di lingkungan perpustakaan Jakarta Barat, dapat disimpulkan bahwa terdapat dinamika yang berbeda antara aspek internal organisasi dan pemanfaatan layanan oleh masyarakat.
Dari sisi komposisi pegawai, kesetaraan gender relatif telah tercapai pada level ASN, di mana jumlah laki-laki (13) dan perempuan (11) cukup seimbang. Namun, ketimpangan masih terlihat jelas pada tenaga PJLP yang didominasi laki-laki (31 berbanding 9). Hal ini menunjukkan bahwa peluang kerja bagi perempuan pada posisi non-ASN masih perlu ditingkatkan agar lebih inklusif dan setara.
Sementara itu, dari sisi jumlah pengunjung perpustakaan, terjadi tren yang positif. Tidak hanya jumlah pengunjung meningkat signifikan dari tahun 2024 ke 2025, tetapi juga kesenjangan gender semakin mengecil. Partisipasi perempuan menunjukkan peningkatan yang lebih cepat dibandingkan laki-laki, sehingga pada tahun 2025 komposisinya hampir seimbang. Ini mencerminkan semakin terbukanya akses dan meningkatnya minat perempuan terhadap layanan literasi.
Pada aspek kelompok usia, ditemukan pola yang menarik. Kelompok anak-anak merupakan pengunjung terbanyak, namun masih didominasi laki-laki. Sebaliknya, pada kelompok remaja dan dewasa, partisipasi perempuan cenderung lebih tinggi dan bahkan melampaui laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin bertambah usia, keterlibatan perempuan dalam aktivitas literasi semakin kuat.
Baca Berita
Berita Lainnya