Artikel
CERITA DI BALIK LENSA
"Jejak Nelayan Kalibaru:
Menengok Kembali Kehidupan Pesisir Cilincing Tahun 1974"
Haris Budiman
•
Senin, 10 Agustus 2026
Kalibaru, Cilincing — Kumpulan foto dokumentasi tahun 1974 ini merekam denyut kehidupan kampung nelayan di pesisir utara Jakarta, sebelum kawasan itu berubah menjadi jantung industri dan pelabuhan modern.
Sebelum menjadi kawasan padat industri dan pelabuhan modern seperti sekarang, Kalibaru di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, adalah kampung nelayan yang riuh oleh suara ombak, deretan perahu layar, dan tawa anak-anak pesisir. Sederet foto hitam-putih dari tahun 1974 berikut ini merekam potret keseharian itu. Momen sederhana namun sarat makna dari sebuah kampung yang hidup dari laut.
Seorang nelayan memanggul pikulan berisi keranjang hasil tangkapan, diapit rekan-rekannya yang baru merapat dari laut. Kalibaru, Cilincing, 1974.
Kampung yang Lahir dari Laut
Kalibaru bukan sekadar permukiman biasa. Sejak dekade 1960-an, kawasan ini dikenal sebagai pelabuhan ikan yang menggantikan pelabuhan ikan Kali Kresek Lahoa yang ditutup pada 1967, terbagi menjadi Kalibaru Timur dan Kalibaru Barat. Di pelabuhan Kalibaru inilah aktivitas pendaratan, pelelangan, hingga bongkar muat dan pemasaran ikan berlangsung setiap hari. Bahkan, pada masa kejayaan jaring pukat harimau (trawl), pelabuhan ini tergolong sangat ramai karena letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan kayu dan proyek pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok.
Secara historis, kampung nelayan di kawasan Cilincing termasuk Kalibaru telah ada sejak tahun 1920-an, dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari hasil laut. Pola permukiman mereka umumnya memanjang mengikuti garis pantai, dengan rumah-rumah kayu sederhana yang berjejer di tepi sungai dan muara.
Deretan perahu layar besar berjejer di muara sungai, sementara perahu-perahu kecil hilir mudik membawa penumpang dan hasil laut. Kalibaru, Cilincing, 1974.
Menatap Foto Tahun 1974
Dalam salah satu foto, tampak seorang nelayan muda tersenyum lebar sambil memanggul pikulan bambu berisi keranjang anyaman penuh muatan hasil tangkapan, diapit rekan-rekannya yang baru saja merapat dari laut. Ekspresi wajahnya basah oleh keringat dan air laut, menggambarkan kelegaan khas nelayan yang pulang membawa rezeki.
Foto lain memperlihatkan deretan perahu layar besar berjejer rapat di muara sungai, tali-temali dan tiang layarnya menjulang saling silang di langit pagi. Di sela-sela kapal besar itu, perahu-perahu kecil hilir mudik membawa penumpang dan barang, sementara di tepian, tumpukan terumbu karang dan sampah laut menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap pesisir kala itu.
Atas: nelayan menyeret perahu dari tengah ombak menuju bibir pantai. Bawah: kampung nelayan di tepi kanal, rumah-rumah beratap rumbia berdampingan dengan perahu yang ditambatkan di depan rumah.
Ada pula gambar nelayan yang tengah menyeret perahu kecil dari tengah ombak menuju bibir pantai, sebuah kerja keras kolektif yang menjadi rutinitas harian sebelum dermaga modern dibangun. Dan potret kampung di tepi kanal, di mana rumah-rumah beratap rumbia berdiri berdampingan dengan perahu-perahu yang ditambatkan tepat di depan pintu rumah, menunjukkan betapa menyatunya kehidupan warga dengan air.
Atas: bebatuan karang di garis pantai yang menahan hempasan ombak. Bawah: kapal-kapal nelayan bersandar rapat di dermaga, siap berlayar mencari hasil laut.
Dari Kampung Nelayan ke Jantung Industri
Wajah Kalibaru dan Cilincing kini telah banyak berubah. Pada 1971, pengusaha Sudono Salim mendirikan pabrik tepung Bogasari di wilayah Kalibaru, menjadi salah satu penanda mulai bergesernya kawasan ini ke arah industri. Meski demikian, jejak masa lalu belum sepenuhnya hilang. Aktivitas nelayan masih bertahan di beberapa titik dan tradisi pesisir tetap hidup di tengah modernisasi kawasan.
Foto-foto dari tahun 1974 ini menjadi pengingat berharga: bahwa di balik hiruk-pikuk truk kontainer dan gudang logistik yang kini mendominasi Cilincing, pernah ada dan sebagian masih ada, kampung nelayan yang sederhana, keras, namun penuh kehangatan. Wajah-wajah nelayan yang tersenyum di depan lensa kamera puluhan tahun lalu adalah saksi bisu dari sebuah era ketika laut masih menjadi sumber kehidupan utama warga Kalibaru.
Kalibaru dalam Perjalanan Jakarta Menuju 5 Abad
Rekaman kehidupan pesisir Kalibaru tahun 1974 ini muncul kembali di saat yang bermakna: Jakarta tengah bersiap menyambut usianya yang ke-500 tahun, atau lima abad, pada 2027. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah meluncurkan logo peringatan lima abad dan mulai menyusun kalender kegiatan berskala internasional sepanjang tahun 2027 untuk merayakan momentum tersebut. Di tengah gegap-gempita perayaan menuju kota global itu, kampung nelayan seperti Kalibaru menjadi pengingat penting bahwa jauh sebelum Jakarta dikenal sebagai pusat bisnis dan pelabuhan modern, kehidupan pesisirnya sudah menjadi bagian dari denyut nadi kota, sepotong sejarah kecil yang ikut membentuk perjalanan panjang ibu kota menuju usia lima abad.
Baca Artikel
Artikel Lainnya