Fase Pengembangan Aplikasi Jaklitera (Jaringan Koleksi Lintas Area)
2018
· Peraturan Gubernur Nomor 76 Tahun 2018 tentang Pembudayaan Kegemaran Membaca, tanggal 26 Juli 2018.
2019
· Diskusi konsep OCAL (One Card Access Library) dalam layanan perpustakaan (sesuai surat undangan tanggal 28 Juni 2019 tentang Pembahasan Aplikasi OCAL, SIAP, SIAK).
· Pelaksanaan Baca Jakarta Offline tanggal 1 – 30 April 2019.
· Diskusi lanjutan pengembangan konsep OCAL.
· Kawasan Taman Ismail Marzuki direvitalisasi mulai 3 Juli 2019 dan menyatukan bangunan Gedung Perpustakaan Cikini dengan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin.
2020
· Pengembangan konsep OCAL : input katalog buku.
· Keputusan rapim Dispusip mengenai pengembangan OCAL tanggal 3 Maret 2020.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Offline Tahun 2020 direncanakan dua kali yaitu Periode I tanggal 11 Maret – 09 April 2020 dan Periode II tanggal 04 September – 03 Oktober 2020.
· Pandemi Covid-19 menghentikan pelaksanaan Kegiatan Baca Jakarta Tahun 2020.
· Diskusi pengembangan Baca Jakarta Online.
2021
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor 78 Tahun 2021 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Umum Provinsi, Perpustakaan Umum Kota Administrasi dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta tanggal 19 Januari 2021.
· Pengembangan Inlis Dashboard pada Februari 2021
· Pengembangan Aplikasi Baca Jakarta versi 01 pada Maret 2021.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online tanggal 1 – 30 April 2021 (setahun sekali).
· Pengembangan Aplikasi OCAL (integrasi aplikasi Inlislite dan Siapjak) pada Juli 2021.
2022
· Pengembangan Aplikasi Baca Jakarta versi 02 pada Januari 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 18 Januari – 16 Februari 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan II tanggal 18 April – 17 Mei 2022.
· Uji coba Jaklitera tanggal 24 Mei 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor 185 Tahun 2022 tentang APLIKASI JAKLITERA (Jaringan Koleksi Lintas Area) TAHUN 2022 tanggal 2 Juni 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0042 Tahun 2022 tentang Penamaan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi dan Lima Wilayah Kota Administrasi Sesuai Citra Baru di Lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tanggal 8 Juni 2022.
· Kick off aplikasi Jaklitera (pendaftaran anggota secara online bagi pejabat, ASN dan PJLP Dispusip) tanggal 22 Juni 2022.
· Rapat Koordinasi Teknis Jaklitera tanggal 29 Juni 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan III tanggal 01 – 26 Juli 2022.
· Uji coba transaksi sirkulasi on site Jaklitera tanggal 1 Juli 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0043 Tahun 2022 tentang Tim Verifikator, Admin dan Panduan Kebijakan Jaklitera tanggal 6 Juli 2022.
· Peresmian Perpustakaan Cikini tanggal 7 Juli 2022.
· Launching aplikasi Jaklitera versi website tanggal 8 Juli 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0049 Tahun 2022 tentang Arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tahun 2022 – 2026 tanggal 21 Juli 2022.
· Rilis Layanan Antar Koleksi secara penuh tanggal 17 Agustus 2022.
· Rilis fitur Night at The Library ke Jaklitera tanggal 31 Agustus 2022.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0053 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyelenggaraan Layanan dan Standar Pelayanan Perpustakaan Umum Dispusip Provinsi DKI Jakarta tanggal 31 Agustus 2022.
· Rilis fitur donasi buku ke Jaklitera tanggal 9 September 2022.
· Rilis fitur pusling ke Jaklitera tanggal 5 Oktober 2022.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan IV tanggal 24 Oktober – 22 November 2022.
2023
· Integrasi aplikasi Baca Jakarta ke Jaklitera pada Januari 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 5 – 20 Februari 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan II tanggal 7 – 20 Mei 2023.
· Launching aplikasi Jaklitera versi android tanggal 21 Juli 2023.
· Rilis fitur Baca Jakarta di aplikasi android tanggal 17 September 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan III tanggal 17 September – 2 Oktober 2023.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan IV tanggal 5 – 20 November 2023.
2024
· Penghapusan opsi reservasi regular, reservasi untuk event tetap diberlakukan pada tanggal 25 Maret 2024.
· Integrasi koleksi digital Pusat Data dan Analisa Tempo tanggal 3 Juni 2024.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 8 – 23 Juni 2024.
· Redesain antar muka website Jaklitera tanggal 1 Juli 2024.
· Launching aplikasi Jaklitera versi IOS dan fitur perlindungan data pribadi tanggal 3 Juli 2024.
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan II tanggal 28 Oktober – 12 November 2024.
· Rilis fitur Katalog Sastra Jaklitera versi web tanggal 6 November 2024.
· Rilis fitur Katalog Sastra versi Android pada tanggal 8 November 2024 dan IOS pada tanggal 11 November 2024.
2025
· Pelaksanaan Baca Jakarta Online Triwulan I tanggal 24 Februari – 11 Maret 2025.
· Keputusan Kadispusip Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0033 Tahun 2025 tentang Desain Transformasi Layanan Perpustakaan dan Kearsipan Terintegrasi tanggal 4 Juni 2025.
· Rilis fitur Reservasi Layanan Immersive versi web tanggal 15 Juni 2025.
· Rilis fitur Event Workshop Membaca versi web tanggal 26 Juni 2025.
· Rilis fitur Pencatatan KCKR versi web tanggal 15 Juli 2025.
· Rilis fitur Event Pendaftaran Lomba Piala HB Jassin versi web tanggal 15 Juli 2025.
*Continuous Improvement (Pengembangan Berkelanjutan)
It has been widely acknowledged that libraries, including public libraries, are pillars of knowledge, enhancing intellectual development and socio-cultural awareness in communities. In addition to serving as repositories of books, public libraries hold an important role in shaping the mindset of people, encouraging critical thinking, creating open-mindedness, and constructing adaptability to changes in various aspects of life including the environment, social dynamics, and technology. In an era of technological advancement as well as social transformation, the impact of public libraries in developing a progressive and inclusive mindset cannot be ignored.
One of the essential aspects indicating that public libraries contribute to creating an open-minded society is their role in providing access to diverse perspectives (Ashikuzzaman, 2023). While digital platforms tend to provide views through algorithmic content curation, the libraries offer a wide and objective range of literature, such as literary documents, historical records, and research materials, all of which contain facts and are well-curated. The libraries also help ensure an authentic record of knowledge that are composed by past generations (Mondal, 2021). In this case, librarians play their main role as ‘organizers’ in managing and displaying the reliable information in the libraries. Meanwhile, fiction-related collections are arranged separately to make sure the collection category does not mislead and disturb those who seek factual information for study or research. Furthermore, nowadays, misinformation and bias are crucial issues that often arise in online spaces, making it essential for individuals to develop the ability to search for and discover credible sources. It is believed that exposure to new ideas and cultures strengthens people’s critical thinking and reduces prejudice.
At this point, the integration of technology in public libraries helps people easily find and borrow collections that match their interests through e-catalog and digital services (Hazan & Ayub, 2024). This integration enables the people to do their tasks by providing easy access, speed, and efficiency. It leads them to become more productive while exploring the collections in the libraries. Technology integrated into public libraries, particularly in the aspect of the library services, boosts visitors’ sense of comfort while engaging in various activities such as reading, developing information literacy skills, learning new things, or attending online meetings. Recently, some public libraries have started offering digital books through their online platforms. It allows people to legally access digital books anytime and anywhere. Additionally, these electronic books are guaranteed to come from credible sources. As a result, to provide inclusive access to all, the libraries must make sure that both the platforms and electronic books are designed to accommodate everyone.
Public Libraries as a Medium for Character Development
Since public libraries are dedicated to run and organize educational, social and cultural activities, they function as community centers appropriate for a variety of constructive activities or events. According to Vasilievna & Vladimirovna (2021), public libraries, along with public communities, organize various activities, facilitating the process of intellectual interactions such as workshops, seminars, discussions, talk shows, and book clubs that are primarily intended for their members, yet they are often open to the public and actively engage the participants from various backgrounds. These literacy activities provide individuals with opportunities to share ideas and gain valuable insights. The participants also learn new cultural perspectives when they are involved in discussions or sharing sessions. When people have the chances to engage with different ideas, they become more open to change and innovation, learning to respect and appreciate differences.
Moreover, public libraries also provide a dedicated space for children. This space allows them to explore and learn new things, and interact with their peers through literacy programs to strengthen their social skills. Children are introduced to literature which is appropriate for their ages and develop their interests in reading (Itsekor & Nwokeoma, 2017). Such interactions not only enhance critical thinking, but also improve children’s creativity, rational thoughts, and open-mindedness while still allowing them to play. Following that, the role of public libraries extends beyond childhood, as they also support school and college students in accessing credible references, collaborating on projects, and encouraging their analytical and problem-solving skills, or even simply spending their leisure time in the libraries. Public libraries remain a vital resource, providing them with diverse learning materials and fostering their ability to think critically and independently.
Hence, public libraries serve as bridges between tradition and progress these days, offering resources —both physical and digital —that equip individuals with the ability to integrate new perspectives while maintaining critical thinking. It is clearly demonstrated through the diverse literature available and the literacy activities or events organized in the libraries that give opportunities for learning. Everyone can participate and they gain insights from activities covering various topics, where they are exposed to new values through their interactions. These experiences help individuals develop adaptability as a foundation for building meaningful relationships with others in their social lives, as they become more flexible in adapting to changes and dealing with diversity.
Thus, public libraries contribute to forming a society that values knowledge, embraces diversity, and remains adaptable to changes by fostering intellectual discussions, providing access to diverse ideas through displayed collections, and promoting information literacy by utilizing technology. Public libraries also facilitate character development through organized activities or events, enabling people to actively participate, whether in person or through digital engagement, and learn to interact with others in a well-mannered way. These analyses convey that public libraries play a crucial role in shaping an open-minded way of thinking and building critical skills, which are essential for nurturing the socio-cultural and intellectual development of future generations in order to adapt to an inclusive modern world.
(Written by Khairunnisa Rahayu)
Libraries have been recognized as hubs of lifelong learning, as highlighted in Indonesia’s Law Number 43 of 2007. This law regulates the management of library collections, including books and audio-visual resources, ensuring access to knowledge for all. Complementing this, Government Regulation Number 27 of 2019 on facilitating access to Copyrighted Works for Persons with Disabilities provides opportunities for individuals with disabilities to acquire and use a copyrighted work in accessible formats such as Braille, audiobooks, or other means without legal barriers, promoting inclusivity in accessing literacy. For these reasons, since 2022, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin at Taman Ismail Marzuki has stood out for its commitment to inclusion. It goes beyond traditional services by providing inclusive programs and resources in order to empower individuals with diverse needs, initiating the spirit of equal access to education and information.
Layanan Inklusi: Accessible Literacy for All
To support this mission of inclusion, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin introduced Layanan Inklusi (Inclusion Service). This service is designed to facilitate individuals with special needs, enabling them to explore and engage with the collections in the library based on their interests. Layanan Inklusi plays a crucial role in addressing solutions to accessible books, particularly for those with visual disability as a group that is the most impacted by the lack of accessible reading materials. To address this challenge, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin collaborates with third-party institutions to supply the accessible reading materials now available in the Layanan Inklusi area. This partnership ensures a growing collection of resources that enhance equal access education and information for those most impacted by the limited access to accessible literacy.
Moreover, the collections available through the Layanan Inklusi includes Braille books, electronic books, and audiobooks, which can be accessed only in the Layanan Inklusi area, located on the 5th floor of Ali Sadikin Building, Taman Ismail Marzuki. For readers interested in the resources, the service provides specialized tools, such as audiobook player and file readers to facilitate access to these resources. There are approximately 6000 Braille books, 1000 audiobooks, and 500 electronic books that can be read by the readers. If the books the readers are looking for are not available in accessible formats, the staff in charge—who is non-disabled—will assist by reading the books for them.
In addition, 6 accessible computer units equipped with screen reader programs help blind users operate the computers independently. The accessible computer units function similarly to standard computers, but feature a screen reader with robotic voice that reads all text displayed on the screen, enabling the blind users to engage with digital content by themselves.
Layanan Inklusi displays the collections about disability perspectives in standard format books to increase the knowledge of those who are—non-disabled—related to the terms of disability and the related issues.
Layanan Inklusi also supports individuals with other disabilities, including those with hearing and speech impairments, physical and intellectual disabilities, and emotional or mental health problems. They are allowed to borrow books from any sections of the library as they can read books in standard formats, and they can use the Layanan Inklusi space as the comfortable area to read and engage with the collections.
Nevertheless, when Layanan Inklusi has no visitors with disabilities coming to enjoy the service, it is widely opened for those who are—non-disabled—to use the space of Layanan Inklusi to read, especially if other library areas are fully occupied. This flexible approach ensures the area is used efficiently while prioritizing its main purpose. They are also allowed to use facilities in Layanan Inklusi, such as computers with screen reader programs, audiobooks, and audiobook players, when they are interested in exploring the accessible collections with terms and conditions applied.
Empowering Library Staff through Trainings and Collaborations
Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin has organized training programs to build staff capacity in disability sensitivity. These programs aim to improve the library staff’s knowledge and skills needed to serve library visitors with diverse disabilities, including visual, hearing and speech, physical, intellectual, emotional, and/or mental disabilities. The activities familiarize the staff with disability-related concepts and provide practical guidance on interacting effectively and respectively with people with disabilities. To ensure comprehensive training programs, the library collaborates with disabled people’s organizations (DPOs) that focused on raising stakeholder awareness about the importance of reasonable accommodations and the universal design in public services.
On the other hand, the library's Efforts on enhancing its accessibility and inclusivity extend Further. Layanan Inklusi of Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin works together with disabled people’s organizations (DPOs) across Indonesia and special schools in Jakarta to host workshops, seminars, webinars, talk shows, and other events related to disability empowerment, involving individuals with various types of disabilities. Moreover, Layanan Inklusi also joins with government institutions to create podcasts addressing disability-related issues, accessible literacy, and reasonable accommodations. The team actively participates in inclusivity-focused events, such as attending the celebration of important disability awareness days and participating in inclusive exhibitions organized by other organizations/institutions. Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin contributes to provide reasonable accommodations by visiting disabled communities or special schools in Jakarta which need literacy access through the Layanan Inklusi’s outreach program called "Layanan Jemput Bola".
Furthermore, Layanan Inklusi collaborates with Petanetra, a youth community focusing on public buildings accessibility through augmented reality technology. This collaboration allows Petanetra to create room maps equipped with a voice-over program installed on blind users’ phone devices to access the building of Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin and help blind library visitors navigate the library more easily.
With that in mind, libraries are expected to serve as knowledge centers for all, enhancing national education and promoting inclusivity. This goes beyond the way of providing accessible library’s collections; it involves leading activities that foster inclusivity and collaborating with the public to encourage best practices in public services, particularly for individuals with disabilities. Building on this commitment, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin continuously learns how to fulfill the needs of the people with disabilities in literacy and makes efforts to meet the standards of accessible and inclusive library for everyone.
DISPUSIP JAKARTA, Indonesia - Pengelolaan arsip di era digital seperti sekarang ini tidak hanya penting bagi institusi, perkantoran atau organisasi besar, tetapi juga bagi setiap keluarga. Arsip keluarga mencakup berbagai dokumen penting seperti akta kelahiran, surat nikah, ijazah, sertifikat, foto, video, dan berbagai dokumen penting lainnya. Mengelola arsip digital keluarga dengan baik memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pengelolaan arsip digital keluarga sangat penting:
1. Keamanan dan Keberlanjutan
Dokumen fisik rentan terhadap kerusakan akibat bencana alam, kebakaran, banjir, atau hanya karena usia. Dengan mengelola arsip dalam bentuk digital, risiko kerusakan atau kehilangan dapat diminimalkan. Arsip digital dapat disimpan di berbagai tempat penyimpanan seperti cloud, hard drive eksternal, atau server pribadi, sehingga memastikan keberlanjutan dan keamanan dokumen penting keluarga.
2. Kemudahan Akses dan Pengelolaan
Dengan arsip digital, akses terhadap dokumen penting menjadi lebih mudah dan cepat. Anda tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mencari dokumen di tumpukan berkas fisik. Dengan sistem pengelolaan arsip yang teratur, Anda dapat menemukan dokumen yang diperlukan hanya dalam beberapa klik. Hal ini sangat membantu dalam situasi darurat atau ketika Anda membutuhkan dokumen tertentu dengan cepat.
3. Berbagi dengan Mudah
Arsip digital memungkinkan Anda untuk dengan mudah berbagi dokumen penting dengan anggota keluarga lainnya. Misalnya, jika ada anggota keluarga yang membutuhkan salinan akta kelahiran atau ijazah, Anda bisa mengirimkannya melalui email atau platform berbagi file lainnya. Ini juga memudahkan kolaborasi dalam proyek keluarga seperti pembuatan silsilah keluarga atau penyusunan album keluarga.
4. Memori dan Warisan Keluarga
Foto dan video digital memungkinkan kita untuk menyimpan kenangan berharga keluarga dengan cara yang lebih efisien. Dengan pengelolaan arsip digital, Anda dapat memastikan bahwa kenangan tersebut tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Arsip digital memungkinkan Anda untuk membuat salinan cadangan sehingga memori keluarga tetap aman dan terjaga.
5. Efisiensi Ruang dan Biaya
Mengelola dokumen dalam bentuk digital membantu mengurangi kebutuhan akan ruang fisik untuk menyimpan berkas-berkas tersebut. Anda tidak perlu lagi menyediakan lemari atau laci khusus untuk menyimpan dokumen. Selain itu, pengelolaan arsip digital juga mengurangi biaya yang mungkin dikeluarkan untuk perawatan dan penyimpanan dokumen fisik.
Dengan memanfaatkan teknologi digital, kita dapat menyimpan foto, video, dan dokumen penting secara rapi dan aman. Arsip digital memudahkan akses dan pencarian, serta melindungi dari kerusakan fisik seperti kelembaban dan kebakaran. Penting untuk melakukan backup secara berkala dan menyimpan salinan di lokasi yang berbeda. Pengelolaan arsip digital keluarga bukan hanya tentang menyimpan dokumen, tetapi juga tentang menjaga sejarah dan warisan keluarga untuk generasi mendatang.
Penulis: Muhammad Fauzie Muttaqien
Jakarta--“Bagi saya, sejarah itu membosankan,” ungkap Om Hao membuat Kawan Perpus dan Kawula Sastra terpana. Pasalnya, pemilik nama asli Hari A. Kurniawan ini pernah tercatat sebagai mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Sejarah sebuah kampus terkemuka di Yogyakarta. “Kalau ditanya, saya lebih suka belajar Fisika,” lanjutnya. Rupanya, ini ialah gaya sentilan khas Om Hao untuk mencuri perhatian Kawan Perpus dan Kawula Sastra yang memenuhi Ruang Baca Lantai 5 Pusat Dokumen Sastra H. B. Jassin malam itu.
Kegiatan bertajuk “Telusur Jakarta” yang diselenggarakan oleh Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H. B. Jassin pada Kamis, 7 November 2024 tersebut bertujuan untuk menumbuhkan ketertarikan generasi muda pada literasi sejarah. Kehadiran Om Hao sendiri dalam kegiatan itu seolah mewakili sosok Milenial yang memiliki konsistensi untuk memelihara memori kolektif bangsa. Berbekal “kemampuan istimewa” (sixth sense-Red), pria kelahiran Jombang tanggal 13 April 1987 ini telah menunjukkan keseriusannya untuk memberikan perspektif Sejarah kepada masyarakat dengan cara yang unik.
“Hanya dalam dua puluh menit sejak broadcast reservasi kegiatan ini ditayangkan di Instagram, kuota pendaftaran sudah penuh,” ujar Marchantia Teisha Fauzuna, Kepala Satuan Pelaksana Layanan Perpustakaan Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H. B. Jassin, saat ditanya mengenai antusiasme Kawan Perpus dan Kawula Sastra. “Selama ini, beberapa buku karya Om Hao masuk ke dalam koleksi favorit pengunjung di Perpustakaan Jakarta dan PDS H. B. Jassin. Hal ini menunjukkan bahwa cara Om Hao bertutur tentang Sejarah memang telah menarik simpati masyarakat. Sebagai sebuah pelayanan publik, perpustakaan perlu jeli untuk memfasilitasi ketertarikan masyarakat terhadap sejarah semacam ini,.” jelasnya lebih lanjut.
Faktanya, ketika sesi tanya jawab digelar, berbagai pertanyaan langsung menyerbu Om Hao. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari persoalan Si Pitung, Pangeran Jayakarta, hingga jejak era Renaissance di Jakarta memantik suasana diskusi sejarah malam itu. Suhu ruang seketika terasa hangat manakala Om Hao mulai menelusuri Sejarah Taman Ismail Marzuki, peninggalan Raden Saleh.
(Agatha Febriany)
Pada hari Kamis, 8 November 2024, para murid dari SDN Kebon Kosong 05 melaksanakan kunjungan ke Perpustakaan Petojo Enclek yang menjadi satu pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka. Dengan penuh semangat dan antusiasme, mereka menjelajahi dunia pengetahuan dan kisah-kisah inspiratif yang tersimpan di perpustakaan tersebut.
Kunjungan ke perpustakaan bukan hanya sekadar jalan-jalan biasa, tetapi juga merupakan kesempatan untuk memperluas wawasan dan pengetahuan para murid. Mereka diberi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai buku dan referensi yang dapat menambah pengetahuan mereka tentang berbagai hal, seperti sejarah, sains, budaya, dan cerita-cerita menarik.
Kepala Seksi Perpustakaan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Pusip) Jakarta Pusat, Noor Muchyadi mengatakan, studi wisata ini merupakan bagian dari edukasi literasi sekaligus memperingati Hari Pahlawan Indonesia. Tidak hanya itu beliau juga menyampaikan “Perpustakaan senantiasa berupaya meningkatkan layanan dan fasilitas untuk mendukung kebutuhan pengunjung. Selain koleksi buku dan sumber belajar yang lengkap, kami juga menyediakan fasilitas ruang teater yang modern dan nyaman. Ruang ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti pemutaran film edukatif, diskusi literasi, dan pertunjukan seni. Semoga fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat. Terima kasih.”
Selain itu, para murid juga diajak untuk mendengarkan dongeng yang di bawakan oleh ka Rizki tentang Hari Pahlawan yang disampaikan secara interaktif dan menarik. Cerita mengenai perjuangan para pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaan begitu menginspirasi hati para murid. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan antusiasme yang memancarkan semangat patriotismenya.
Tak hanya itu, sesi diskusi tentang arti pentingnya Hari Pahlawan dan bagaimana mereka dapat menjadi pahlawan di lingkungan sekitar juga turut menggugah kesadaran moral para murid. Mereka diajarkan untuk menghargai jasa para pahlawan, serta mendorong mereka untuk menciptakan tindakan-tindakan kecil yang dapat membawa perubahan positif di sekitar mereka.
Kunjungan ini tentu memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter dan pengetahuan para murid. Mereka tidak hanya belajar tentang sejarah dan nilai-nilai kepahlawanan, tetapi juga semakin termotivasi untuk berkontribusi dan menjadikan diri mereka sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga kunjungan ke Perpustakaan Petojo Enclek ini dapat menjadi awal dari perjalanan panjang para murid dalam meraih impian dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat dan bangsa harapkan juga dapat menjadi ajang silaturahmi antar sekolah dan membangun minat baca yang tinggi di kalangan generasi muda.
Amanat UNCRPD (United Nations Convention on The Rights of Person with Disabilities) dengan jelas menyebutkan bahwa universal design adalah desain produk, lingkungan, program, dan layanan yang dapat digunakan oleh semua orang secara optimal (akomodatif, tanpa diskriminatif, serta tanpa desain yang dikhususkan). Adapun prinsip dasar dari universal design menurut UNCRPD, meliputi:
Pada tataran regulasi tingkat nasional, kebijakan mengenai universal design (UNCRPD) telah mengalami proses ratifikasi dan harmonisasi, di antaranya, dengan beberapa peraturan berikut:
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas;
Model Universal Design pada Indikator Kota Global
Dalam penjelasan BAPPEDA Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terdapat tiga komponen inti yang menjadi fokus pengembangan kota global, yaitu:
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa untuk mencapai ketiga target tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan wilayah perkotaan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta tahun 2023 – 2043.
Senada dengan penjelasan di atas, Penjabat Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Heru Budi Hartono telah meresmikan Penyusunan Kajian Perencanaan Jakarta Menuju Kota Global di Balai Kota Jakarta pada 10 September 2024. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan gambaran mengenai arah pengembangan Jakarta menuju Kota Global, dimana beberapa fokus pengembangannya menyasar kepada penyediaan infrastruktur yang handal dan berkelanjutan serta peningkatan konektivitas dan aksesibilitas melalui pengembangan infrastruktur transportasi umum.
Apabila menilik dari lima indikator utama Kota Global yang dipaparkan oleh Lembaga Riset dan Konsultan Ekonomi Internasional “Kearney” Indonesia, maka penerapan model universal design menjadi faktor pendukung signifikan bagi perwujudan Kota Global. Pertama, tingkat aktivitas bisnis yang tinggi membutuhkan kemudahan akses untuk mendukung mobilitas, komunikasi, dan trans-informasi bagi Masyarakat, pelaku bisnis, dan pemanku kebijakan. Kedua, jumlah Sumber Daya Manusia yang mumpuni membutuhkan kemudahan akses fisik (gedung) dan non-fisik (informasi, media pembelajaran) serta keterjangkauan biaya mobilitas menuju Lokasi pelayanan. Ketiga, kemudahan pertukaran informasi dan jaringan komunikasi yang memadai perlu memastikan aspek keberhasilan penyampaian informasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk kepada kelompok penyandang disabilitas. Keempat, berkembangnya sektor kebudayaan tentu membutuhkan keterlibatan dan partisipasi bermakna dari seluruh pihak, dimana kemudahan akses dan keterjangkauan layanan menjadi faktor penting. Kelima, atmosfer yang mendukung kehidupan politik menghendaki kemudahan akses mobilitas, komunikasi, dan trans-informasi bagi seluruh warga Masyarakat. Selain itu, jika menilik data Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta tahun 2024 dimana terdapat sekitar 61.000 mjiwa penyandang disabilitas yang memiliki hak pilih, maka jumlah penyandang disabilitas di Jakarta pun menjadi wajar untuk diperhitungkan dalam arah Pembangunan menuju Kota Global. (Agatha Febriany)
Sumber:
1. Upaya Jakarta Menuju Kota Global (Jakarta Smart City)
2. Heru Resmikan Penyusunan Kajian Perencanaan Jakarta ... (Beritajakarta.id)
3. www.cnbcindonesia.com
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta memberikan penghargaan dalam rangka pemberian apresiasi kepada Mitra Kerja yang telah membantu jalannya pelaksanaan tugas dan fungsi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta. Penyerahan penghargaan ini diberikan kepada para mitra yang telah secara aktif berkontribusi dan berkolaborasi bersama dalam mendukung pelaksanaan tugas di Lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukumdan HAM DKI Jakarta.
Penghargaan diserahkan kepada Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Pusat pada Senin (19/8) bertempat di Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta. Selain Sudin Pusip Jakarta Pusat, ada mitra lain seperti Dinas Dukcapil Provinsi DKI Jakarta, Ketua MUI Jakarta Pusat dan SKPD maupun organisasi lainnya yang juga aktif berkolaborasi.
Kegiatan ini sekaligus mendedikasikan kepada para kolaborator untuk memberikan penghargaan setiap kontribusi yang sudah dilakukan terhadap jajaran Kemenkumham. “Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Kemenkumham atas kerja keras dan dediksi yang luar biasa selama membersamai berbagai kegiatan”, Ujar Kepala Kantor Wilayah, Bapak Andika dalam peringatan HUT Kementerian Hukum dan HAM RI Hari Pengayoman ke-79.
Selamat kami ucapkan kepada Kementerian Hukum dan HAM RI, semoga setiap upaya yang dilakukan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 dengan tekad kuat dapat terwujud.
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Peristiwa yang terjadi pada masa lampau dengan meninggalkan bukti-bukti tertulis atau saksi-saksi mata dapat disebut dengan sejarah. Sejarah menjadi penting untuk mengetahui tingkat perjuangan serta hasil perjuangan umat manusia sejak zaman dahulu.
Para ahli sejarah berusaha mendeskripsikan arti sejarah. March Bloch menyatakan sejarah adalah aktivitas-aktivitas manusia pada masa lalu. R.G. Collingwood menyatakan sejarah adalah tindakan-tindakan manusia pada masa lampau. R. Aron menyatakan sejarah adalah kajian tentang masa lalu manusia. Menurut W.J.S. Poerwadarminta yang disampaikan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia bahwa sejarah adalah (1) kesusastraan lama: silsilah atau asal usul; (2) kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau; (3) ilmu, pengetahuan, cerita, pelajaran tentang kejadian, dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau riwayat.
Melihat dari pendapat para ahli di atas, sejarah tidak dapat dilepaskan dari manusia dan kegiatannya yang telah terjadi pada masa lampau. Kegiatan – kegiatan dari berbagai macam peritiwa ini tercatat dan di dokumentasikan sebagai bukti catatan sejarah.
|
Sumber foto : https://taislc.blogspot.com/2010/01/arte-do-mosaico.html |
Sedianya pencatatan dan pendokumentasian sudah ada sejak jaman purbakala. Manusia purba merekam kegiatan yang mereka lakukan melalui gambar di gua-gua dan patung pemujaan. Akan tetapi karena belum adanya keterangan tertulis dari gambar dan patung tersebut maka dokumentasi itu di kategorikan dalam masa prasejarah yakni masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Sejarah di mulai ketika manusia sudah mengenal tulisan. Dari tulisan, manusia mencatat dan memberi makna tentang aktivitas yang dilakukan sehingga membentuk sebuah pemahaman bagi manusia lainnya. Baik bagi manusia yang hidup pada masa itu, maupun yang lahir jauh setelahnya.
Dari titik asal mula arsip dapat di telusuri dari zaman kuno, praktik pengarsipan awal biasanya terkait dengan kebutuhan untuk menyimpan catatan penting, dokumen hukum, surat-surat resmi, dan informasi lain yang dianggap berharga.
Prasasti-prasasti di berbagai situs kuno di Mesopotamia, seperti prasasti-prasasti di kota Ur pada zaman Sumeria. Prasasti-prasasti ini berisi catatan administratif, hukum, dan sejarah yang disimpan dalam bentuk tablet tanah liat yang diarsipkan untuk keperluan referensi dan bukti. Di Mesir kuno, gulungan papirus digunakan untuk menyimpan berbagai macam informasi, mulai dari teks agama, literatur, hingga catatan administratif. Perkamen dari Romawi kuno, digunakan untuk membuat dokumen-dokumen penting seperti piagam, surat resmi, dan dokumen hukum.
|
Sumber foto: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/321559 |
Di abad pertengahan, biara-biara menjadi pusat pengarsipan yang penting, menyimpan dokumen-dokumen keagamaan, hukum, dan administratif. Pada zaman Renaisans, praktik pengarsipan semakin berkembang dengan ditemukannya teknik pencetakan dan penjilidan buku.
Memasuki era modern, teknologi mengubah cara arsip disimpan dan diakses. Dokumen dapat disimpan dalam berbagai bentuk digital dan diakses dengan mudah melalui jaringan komputer. Standar pengarsipan dan perlindungan data mendapatkan perhatian khusus agar keamanan dan integritas arsip dapat terjaga.
Evolusi dari cara penyimpanan dan pengelolaan informasi ini menjadi cermin perjalanan arsip dunia.
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. lahir di Kuningan, Jawa Barat 07 Mei 1969, dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid. Anies merupakan cucu dari pejuang kemerdekaanAbdurrahman Baswedan. Ia dikenal sebagai akademisi, ia mengintisari program Indonesia Pintar pada tahun 2007. Lewat program ini, Anies merekrut anak-anak muda lulus kuliah untuk disebar ke seantero pelosok tanah air dalam rangka memberikan pendidikan kepada anak-anak kurang beruntung. Program tersebut masih berjalan hingga saat ini.
Anies mulai mengenyam bangku pendidikan pada usia 5 tahun. Saat itu, ia bersekolah di TK Masjid Syuhada. Menginjak usia 6 tahun, Anies masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta. Di masa kecilnya, Anies dikenal dengan sebagai seseorang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Setelah lulus SD, Anies diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Dia bergabung dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya, dan menduduki jabatan sebagai pengurus bidang humas yang dijuluki sebagai “seksi kematian”, karena tugasnya mengabarkan kematian. Anies juga pernah ditunjuk menjadi ketua panitia tutup tahun di SMP-nya.
Lulus dari SMP, Anies meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Dia tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus orang Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Progam ini membuatnya menempuh masa SMA selama 4 tahun dan baru lulus pada tahun 1989.
Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan dibidang jurnalistik. Ia bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional. Tahun 1989-1995, Anies kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ia diterima masuk di Fakultas Ekonomi. Saat kuliah, ia aktif berorganisasi dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI UGM.
Di fakultasnya, Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran Kembali Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dia terpilih menjadi Ketua Senat Universitas pada kongres tahun 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan. Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai Lembaga legislative yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993. Masa kepemimpinannya juga ditandai dengan dimulainya Gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus BPPC yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra. Anies turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.
Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa di JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan. Tahun 1997-2005, setelah lulus kuliah Anies bekerja di pusat Antar Universitass Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fullbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada tahun 1998.
Sesaat setelah lulus dari Maryland, Anies Kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Nothern Illinois University pada tahun 1999. Dia bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and policy Studies di kampusnya, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi dalam bidang ilmu politik pada tahun 2004. Dia lulus pada tahun 2005.
Dalam berbagai kesempatan, Anies Baswedan selalu mengatakan ada tiga hal yang ia jadikan pedoman dalam memilih karier. Apakah secara intelektual dapat tumbuh, apakah masih dapat menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, apakah mempunyai pengaruh sosial.
Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan menemui momen penting dalam kariernya. Ia dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina, menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid atau biasa disapa dengan Cak Nur, yang juga merupakan pendiri Universitas Paramadina. Anies dilantik sebagai rector termuda di usia 38 tahun untuk memimpin Universitas Paramadina. Di tangannya, ia berhasil menata Universitas Paramadina. Anies menerapkan kebijakan rekrutmen anak-anak terbaik Indonesia, yang selanjutnya menjadi cikal-bakal Paramadina Fellowship.
Selepas menjadi rector, Anies bergabung dalam tim pemenangan Jokowi-JK pada pilpres 2014. Setelah Jokowi terpilih, ia mendapat Amanah sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Kabinet Indonesia Kerja sejak 26 Oktober 2014. Di tengah masa tugasnya, ia digantikan oleh Muhadjir effendy dalam perombakan cabinet pada 27 Juli 2016. Ia menyebut masa baktinya “dicukupkan”.
Menjelang penetapan peserta Pilkada DKI Jakarta, Anies diminta oleh Prabowo Subianto maju sebagai calon Gubernur. Ia diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang dipasangkan dengan Sandiaga Salahudin Uno sebagai calon Wakil Gubernur mendampingi Anies. Anies-Sandi memenangkan Pilkada DKI 2017 lewat mekanisme pemilihan dua putaran.
| Gambar 1.1 – Pelantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara tahun 2017 |
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merilis setidaknya 31 pencapaian dalam satu tahun pertama Anies Baswedan memimpin Ibu Kota. Diantaranya menghentikan reklamasi Teluk Jakarta, ia mencabut izin 13 pulau reklamasi di Teluk Jakarta sekaligus memastikan reklamasi dihentikan, dan pulau yang sudah ada akan dikelola untuk kepentingan masyarakat. Kemudian program rumah dengan uang muka nol rupiah, peluncuran sarana transportasi terintegrasi Jak Lingko, yang merupakan hasil perubahan One Karcis Trip (OK Trip). Ada 11 operator bus kecil bergabung dalam program yang telah melayani 33 trayek itu. Lalu perluasan manfaat Kartu Jakarta Pintar (KJP) menjadi KJP Plus yang telah diberikan kepada ratusan ribu siswa di DKI Jakarta. Membangun jembatan penghubung atau skybridge di Tanah Abang. Pencapaian peserta Jaminan Kesehatan Semesta DKI Jakarta mencapai 98 persen, dan membangun fasilitas publik ramah disabilitas berupa trotoar dan penyebrangan sebidang atau pelican crossing.
| Gambar 1.2 Salah satu Program Anies Baswedan di bidang transportasi, Jak Lingko |
Dalam penanganan banjir, Anies membangun sumur-sumur resapan. Ia mengkritik kebijakan pendahulunya yang berencana membuat saluran raksasa bawah tanah untuk mengalirkan air hujan ke laut, dengan menilainya itu melawan Sunnatullah. Dalam jangka menengah daerah, ia menerapkan program sumber daya air untuk pengendalian banjir, antara lain revitalisasi prasarana sumber daya air dengan konsep naturalisasi, pembangunan sumur resapan, meningkatkan revitalisasi kanal, revitalisasi sistem polder, pembangunan tanggul pengaman pantai, dan perbaikan tata kelola air.
Ketika terdeteksi dua pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia, Anies mengumumkan pembentukan Tim Tanggap COVID-19. Pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor ditiadakan untuk menghindari kerumunan, diikuti dengan peniadaan kegiatan belajar di sekolah, penghentian operasional kantor, tempat hiburan, dan destinasi wisata yang juga ditutup olehnya pada Maret 2020. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pertama kali diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sekaligus PSBB pertama yang diberlakukan di Indonesia.
| Gambar 1.3 – Anies Baswedan Mendampingi Presiden Joko Widodo Meninjau Vaksinasi COVID-19 di Tanah Abang, Jakarta Pusat |
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
Sumber :
Sopandi, Andi. Triono. Hamluddin. (2019). Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa Ke Masa. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Wikipedia.com. 11 Maret 2024. Anies Baswedan. Diakses pada 19 Maret 2024, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Anies_Baswedan