DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Gubernur DKI Jakarta untuk periode 1964–1965, Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau juga dikenal dengan nama Henk Ngantung lahir di Manado pada tanggal 1 Maret 1921. Henk beristrikan Hetty Evelyn "Evie" Ngantung Mamesah. Pernikahan mereka dikaruniai 4 orang anak yaitu Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung, dan Karno Ngantung.
Pada 1940 beliau memutuskan hijrah ke Batavia atau Jakarta yang saat itu masih menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Di ibukota, Henk Ngantung bergiat di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Di sini pula, ia mulai berinteraksi dengan pelukis kenamaan, Sudjojono. Lukisan "Memanah", patung Selamat Datang, sketsa Perundingan Linggarjati, sketsa perempuan yang dijadikan pelayan militer Jepang adalah sedikit dari karya-karya seni yang pernah dia buat. Henk Ngantung menjadi salah satu pendiri Gelanggang Seniman Merdeka (1946) yang mengihimpun kaum seniman Angkatan 45, termasuk Chairil Anwar, Haruddin M.S., Mochtar Apin, Basuki Resobowo, Asrul Sani, dan lainnya.
Sebelum dipilih menjadi gubernur terlebih dulu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta pada periode 1960–1964 dengan gubernurnya Soemarno. Di tahun 1964 Henk Ngantung diangkat sebagai Gubernur Jakarta untuk menggantikan posisi Soemarno yang naik level menjadi Menteri Dalam Negeri. Presiden Soekarno memegang peranan penting dalam pemilihan Gubernur ini. Ia meyakini pembangunan Ibu Kota Negara itu tak dapat dipercayakan ke sembarang orang. Soekarno ingin Henk gunakan bakatnya mempercantik Jakarta dan menjadikannya sebagai mercusuar peradaban bangsa. Ia ingin Jakarta dibangun dengan semangat romantisme revolusi. Seisi kota mulai dibangun ikon-ikon yang memantik semangat kebangsaan. Suatu upaya untuk mempertegas identitas kebangsaan. Upaya itu ditunjukkan Bung Karno dengan memilih sederet ahli dan seniman untuk melanggengkan keinginannya. Proyek-proyek pembangunan yang kemudian dikenal sebagai proyek mercusuar digalakkan, mulai dari patung, hotel, hingga taman. Henk meletakan fondasi penting pembangunan Jakarta sebagai Ibu Kota yang tertata dan indah. Sekalipun periode kepemimpinannya singkat.
Sumber :
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Brigadir Jenderal TNI (Purn.) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo adalah seorang Dokter, Tentara, dan Politikus yang lahir pada tanggal 24 April tahun 1911 di Rambipuji, Jember, Jawa Timur.
Karir Soemarno dimulai saat sebelum zaman kemerdekaan, ia pernah menjadi Direktur Rumah Sakit Hanggulan Sinta yang berlokasi di kampung Barimba, Kecamatan Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah pada tahun 1939. Rumah Sakit tersebut pernah pindah ke Jl. Kapten Pierre Tendean, sebelum akhirnya pindah ke Jl. Tambun Bungai No. 16 dengan nama RSUD dr. H. Soemarno. Sosroatmodjo.
Brigadir Jenderal dr. H. Soemarno Sosroatmodjo menjabat ketika status Kota Praja Jakarta Raya berubah menjadi daerah tingkat 1 dengan Kepala Daerah berpangkat Gubernur. Kemudian, berdasarkan UU No. 10 Tahun 1964, Jakarta ditetapkan menjadi Ibu Kota Negara Indonesia. Hal ini berdampak pada pembangunan kota yang cenderung menuju arah kota metropolitan. Masa pemerintahan Soemarno lebih difokuskan pada tertib bersih lingkungan tempat tinggal, kesehatan, dan perluasan lapangan kerja.
| Gambar 1.1 – Upacara Pengambilan Sumpah Gubernur Soemarno di Balai Kota (06 Februari 1960) |
Pada masa kepemimpinannya, selain dibangun Monas, Patung Selamat Datang, dan Patung Pahlawan di Menteng, juga dibangun rumah minimum. Konsep rumah minimum ini adalah rumah dengan luas 90 meter persegi, dibangun di atas tanah 100 meter persegi, terdiri dari dua lantai, lokasinya dekat dengan tempat kerja. Proyek pertama rumah minimum dibangun di Jalan Raden Saleh, Karang Anyar, Tanjung priok, dan Bandengan Selatan.
“Kalau kita bisa menyelenggarakan Asian Games, maka sayang sekali jika kita tidak bisa menyelesaikan soal perumahan”, itu sepenggal ungkapan Soemarno kepada Wartawan Star Weekly. Kisahnya bermula saat Jakarta sedang dalam persiapan menjadi tuan rumah assian games 1962. Sebagai Ibukota, Jakartapun diharuskan membangun banyak fasilitas untuk melancarkan pekan olahraga terbesar di Asia itu. Namun ternyata, ada konsekuensi berat yang harus diterimanya. “Konsekuensinya, pembangunan tersebut harus mengorbankan penduduk Jakarta. Jumlah rumah yang dibongkar dan dibangun Kembali sebanyak 8.652 rumah. Padahal disaat yang sama Ibukota Negara ini juga kekurangan 100 ribu rumah dan terus bertambah setiap tahun sebanyak 10 ribu rumah”, jelasnya.
Beberapa kebijakan dimasa kepemimpinan Soemarno dan sejumlah proyek yang dilakukan yaitu:
(1) Pembangunan Kompleks Olahraga di Senayan (Saat ini menjadi Gelora Utama Bung Karno), untuk menyambut Asian Games IV di Jakarta tahun 1962
(2) Kerja bakti menyapu jalan dan membersihkan selokan yang dilaksanakan setiap hari Minggu
(3) Renovasi sejumlah pasar, antara lain Pasar Cikini, Pasar Senen, Pasar Tebet, Pasar Blok M, dan Pasar Grogol
(4) Mendirikan sejumlah PT yang dijalankan atas kerja sama Pemerintahan Daerah dengan pihak swasta, seperti PT Bank Pembangunan Daerah (perbankan), PT Pembangunan Jaya (kontraktor real estat, industri, dan rekreasi), PT Surya Jaya dan PT Sinar Jaya (penerbitan dan pemberitaan), PT Terigu Jaya dan Yayasan Kebutuhan Pokok Jakarta (pangan)
(5) Pembangunan Area Wisata Ancol
| Gambar 1.2 – Suasana Rapat Tentang Pembahasan Pembangunan Daerah Wisata Ancol |
Rintisan awal dibentuknya PT Pembangunan Jaya sebagai Langkah awal pembangunan destinasi Wisata Ancol di Jakarta. Embrio berdirinya Perseroan Terbatas Pembangunan Jaya Ancol, tak terlepas dan seiring dengan pembangunan Ancol Taman Impian sebagai sebuah destinasi wisata terpadu yang terbesar di Indonesia.
Potensi area Ancol sebagai sebuah destinasi wisata telah lama menarik perhatian Pemerintah, bahkan sejak awal abad ke-17, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier, tertarik untuk mengembangkan wilayah tersebut. Namun, potensi itu seolah terabaikan selama terjadi Perang Kemerdekaan. Inisiatif pegembangan destinasi Ancol pun akhirnya datang dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno.
Selanjutnya, Ir. Soekarno pada akhir Desember 1965 memerintahkan dan menunjuk Gubernur DKI Jakarta dr. H. Soemarno Sosroatmodjo sebagai Pelaksana Oembangunan dan Pengembangan Daerah Ancol untuk mengeksplorasi Kembali daya Tarik Ancol sebagai destinasi wisata. Kemudian, pada tahun 1966, proyek tersebut dilanjutkan oleh Gubernur Ali Sadikindan atas persetujuan Pemerintah DKI Jakarta memutuskan untuk menyerahkan Proyek Ancol kepada PT Pembangunan Jaya.
Setelah selesai masa baktinya, Soemarno menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan jabatan Gubernur Jakarta dilanjutkan oleh Henk Ngantung atas perintah Presiden Soekarno, karena kesehatan Soemarno yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan jabatannya.
Soemarno tutup usia di kediamannya pada tanggal 09 Januari 1991 pada usia 79 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri, tujuh anak, 22 cucu, dan 3 cicit. Ia dimakamkan di TPU Karet, Jakarta Pusat. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit di Kawasan Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Hal ini karena Soemarno sempat memimpin Rumah Sakit tersebut pada era Pra-Kemerdekaan.
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
Sumber :
Sopandi, Andi. Triono. Hamluddin. (2019). Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa Ke Masa. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Wikipedia.com. 09 Oktober 2023. Soemarno Sosroatmodjo. Diakses pada 26 Januari 2024, dari https://jv.wikipedia.org/wiki/Soemarno_Sosroatmodjo
Nasional.okezone.com. 12 Mei 2021. Kisah Soemarno Sosroatmodjo Kakek Bimbim Slank, Pencetus Rumah Murah di Jakarta. Diakses pada 26 Januari 2024, dari https://nasional.okezone.com/read/2021/05/12/337/2409286/kisah-soemarno-sosroatmodjo-kakek-bimbim-slank-pencetus-rumah-murah-di-jakarta
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Soediro, dengan nama lengkap Raden Soediro Hardjodisastro lahir pada tanggal 24 april 1911 di dusun Ledok Ratmakan, Yogyakarta, merupakan seorang pendidik dan politisi pemerintahan Indonesia. Ia dikenal sebagai Gubernur Sulawesi pada periode 1951-1953 dan Walikota Jakarta (setara dengan Gubernur) untuk periode tahun 1953-1960 sekaligus sebagai anggota konstituante RI hasil pemilu tahun 1955 mewakili Partai Nasional Indonesia (PNI).
Karir Soediro dalam dunia pendidikan dimulai sebagai Direktur Mulo-Kweekschool Boedi Oetomo (1931-1933), Ketua Taman Siswa Madiun (1936), Guru Ksatriaan Institut Cianjur (1936-1937), Kepala HIS Gubernemen Curup (1937-1940), Kepala HIS Plaju, Palembang (1940-1942), Inspektur Sekolah-sekolah Balatentara Jepang di Plaju Sungai Gerong (1942-1944), Pemimpin Barisan Pelopor Jawa Hooko Kai Jakarta (1944-1945).
Sedangkan dalam dunia politik dimulai sejak ia menjabat sebagai anggota KNIP (1945-1947), Wakil Presiden Surakarta (1946-1947), Residen Koordinator Solo-Madiun, Semarang, dan Pati (1948-1949), Residen Madiun (1950-1951), Gubernur Sulawesi (1951-1953), dan Walikota Jakarta (1953-1960), dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (1978-1983).
| Gambar 1.1 – Walikota Raden Soediro Hardjodisastro Sebagai Ketua Umum "Dana Perjuangan Irian Barat" (Dapib) Sedang Pidato untuk Mencari Dana |
Soediro aktif dalam kegiatan keorganisasian, seperti Jong Java cabang Yogyakarta (1925-1929), Ketua cabang Indonesia Muda (IM) Magelang (1929-1931), Ketua Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) cabang Magelang (1929-1931), PB Partindo (1931-1935), Wakil Pemerintah Umum Barisan Banteng (1945-1948), Ketua Umum Sarekat Kerja Kementerian Dalam Negeri (1947-1959), Ketua Umum Dana Perjuangan Irian Barat (1957-1962), Ketua 1 Persatuan Wredatama Republik Indonesia (1977).
Soediro merupakan tokoh yang memprakarsai pembentukan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Kampung (RK) yang kemudian menjadi Rukun Warga (RW) dengan mengumpulkan lebih dari 3.000 pemuka masyarakat untuk melakukan musyawarah selama 3 hari. Beliau pun juga membuat kebijakan yang fenomenal adalah kebijakan pemecahan wilayah Jakarta menjadi 3 wilayah kabupaten, yaitu Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan.
| Gambar 1.2 – Suasana Penyumpahan Walikota Raden Soediro Hardjodisastro oleh Menteri Dalam Negeri Tahun 1953 |
Soediro juga menyatakan ada 3 daerah teritoris utama di Jakarta, Bandara Kemayoran, Pelabuhan Tanjung Priok, dan Kota Satelit Kebayoran Baru. Soediro pernah membuat kebijakan sekolah gratis untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), namun kebijakan ini hanya berlaku 1 tahun setelah pemerintah pusat membatalkan kebijakan ini. Beberapa proyek yang dikerjakan semasa pemerintahan Soediro, antara lain:
1. Waduk Pluit
2. Jalan Raya Tanjung Priok ke Cililitan (Jakarta Bypass)
3. Perumahan Anggota DPR di Grogol
4. Persiapan Pembangunan Masjid Istiqlal dan Hotel Indonesia
5. Pembangunan Kota Mahasiswa di Rawamangun
6. Pembangunan Air Minum di Pejompongan
7. Pembangunan Jembatan Besi
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
Sumber :
Sopandi, Andi. Triono. Hamluddin. (2019). Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa Ke Masa. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Wikipedia.com. 22 Desember 2023. Soediro. Diakses pada 24 Januari 2024, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Soediro
Harapanrakyat.com. 18 Oktober 2022. Raden Soediro Hardjodisastro: Gubernur Jakarta, Kakek Tora Sudiro. Diakses pada 24 Januari 2024, dari https://www.harapanrakyat.com/2022/10/raden-soediro-hardjodisastro-gubernur-jakarta-kakek-tora-sudiro/
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Sjamsuridjal lahir di Karang Anyar, Jawa Tengah, 11 Oktober 1903 ini merupakan sosok seorang politisi berkebangsaan Indonesia dan menjadi pemimpin Ibukota pertama yang berasal atau diusung oleh partai politik Islam, yaitu Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Sebelum menjadi Gubernur Sjamsuridjal pernah menjabat sebagai Walikota Bandung pada tahun 1945, Walikota Surakarta Walikota Jakarta pada tahun 1951-1953, serta Walikota Jakarta pada tahun 1951-1953.
Sjamsuridjal dipilih bukan melalui pemilihan Kepala Daerah, melainkan ditunjuk langsung oleh Pemerintah Pusat. Sjamsuridjal adalah Pejabat Pengganti Walikota sebelumnya, Soewirdjo, yang diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada 27 April 1951. Kekosongan tersebut kemudian diisi oleh Sjamsuridjal menjadi Gubernur Jakarta.
| Gambar 1.1 – Suasana Penyumpahan Walikota Sjamsuridjal oleh Menteri Dalam Negeri Iskaq Tjokroadisurjo di Balai Kota, 29 Juni 1951 |
Dalam pidato pelantikannya, Sjamsuridjal ingin membangun Jakarta menjadi kota yang indah dan ternama. Beberapa program kerja selama ia menjabat, antara lain pembangunan Stadion Nasional IKADA (Ikatan Atletik Djakarta), pembagian aliran listrik, penambahan air minum, dan urusan pertanahan.
Ada sejumlah proyek yang diprakarsai semasa pemerintahan Sjamsuridjal : pembangunan Pusat Tenaga Listrik di Ancol, pembangunan “Waterzuivering” atau Tempat Penjernihan Air di Pejompongan, pembangunan Perumahan Rakyat di Bendungan Hilir, Karet, Pasar Baru, dan Jembatan Duren yang dapat menampung 33.000 orang, dan pembangunan dua Rumah Sakit di Jalan Balikpapan dan Tanjung Priok. Sjamsuridjal wafat saat berusia 61 tahun pada 29 Desember 1964 di Surabaya, Jawa Timur.
| Gambar 1.2 – Walikota Sjamsuridjal Bersama Anggota Parlemen Meninjau Bangunan Kota dan Tampak Beliau Melihat Peta Grogol |
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
Sumber :
Sopandi, Andi. Triono. Hamluddin. (2019). Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa Ke Masa. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Wikipedia.com. 03 September 2023. Sjamsuridjal. Diakses pada 17 Januari 2024, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sjamsuridjal
Metro.sindonews.com. 01 Februari 2023. Profil Sjamsuridjal, Mantan Gubernur DKI dari Masyumi yang Miliki Gagasan Bangun Busway. Diakses pada 18 Januari 2024, dari https://metro.sindonews.com/read/1011101/170/profil-sjamsuridjal-mantan-gubernur-dki-dari-masyumi-yang-miliki-gagasan-bangun-subway-1675220530
Tirto.id. 24 Januari 2019. Sjamsuridjal, Gubernur Jakarta Pertama dari Partai Islam. Diakses pada 18 Januari 2024, dari https://tirto.id/sjamsuridjal-gubernur-jakarta-pertama-dari-partai-islam-ci4W
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Daan Jahja lahir di Padang Panjang pada tanggal 5 Januari 1925, Daan Jahja adalah Gubernur Militer Jakarta pada awal 1948 hingga 1950. Jabatan tersebut disandangnya pada usia 25 tahun dan berpangkat Letnan Kolonel TNI. Daan Jahja merupakan Angkatan ’45 yang pernah berjuang dalam menumpas aksi Kapten Westerling yang akan merebut kekuasaan negara karena tidak menerima penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949.
Mempunyai rekam-jejak yang heroik sejak pra-kemerdekaan Indonesia dan era-era setelahnya, terutama selama masa kepemimpinannya Presiden Sukarno. Karier politik dan militernya pun berjalan cukup mulus sebelum ia memutuskan berhenti dari panggung nasional seiring pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru pimpinan Soeharto.
Daan Jahja lahir dari pasangan Jahja Datoek Kajo dan Sjahrizan Jahja, asal Kotogadang, Agam, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan anggota Volksraad yang cukup vokal, dan orang yang pertama kali berpidato menggunakan Bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad bahkan sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan pada tahun 1928 orasinya disampaikan dengan berapi-api sehingga membuat orang-orang Belanda yang memandangnya merasa panas.
Perjuangan Jahja Datoek Kajo dilanjutkan oleh sang putra, Daan Jahja, kendati berkiprah di masa yang berbeda. Daan Jahja mulai terlibat dalam pergerakan kebangsaan saat Belanda sudah hengkang dari bumi Indonesia karena kalah perang dan digantikan oleh Jepang sejak tahun 1942. Saat Jepang mulai menunjukkan sinyal kekalahan dalam perseturuan melawang Sekutu di Perang Asia Timur Raya yang menjadi rangkaian Perang Dunia II, Daan Jahja semakin aktif terlibat dalam persiapan kemerdekaan Indonesia.
Saat menjabat Gubernur Jakarta, ia menghadapi banyak persoalan dalam masyarakat Jakarta, seperti berbagai masalah administrasi dalam proses pengembalian pemerintahan Jakarta kepada pola ke-Indonesiaannya. Akan tetapi, sebagai administrator, Daan Jahja berhasil menyelesaikan berbagai masalah tersebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Daan Jahja juga pernah menjadi redaktur pimpinan surat kabar nasional ketika berusia 23 tahun. Saat itu, ia memiliki bawahan 40 wartawan yang berapa dari mereka berusia lebih tua.
Setelah jabatannya sebagai Gubernur Militer berakhir pada 1950, Daan Jahja diangkat sebagai Sekretaris Gabungan Kepala Staff Angkatan Perang RI. Ia juga sempat menjadi akses militer Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Mesir. Setelah pension dari ketentaraan sejak 1966, Daan Jahja beralih terjun ke ranah politik. Mengikuti jejak ayahnya yang pernah menjadi anggota Volksraad pada era Kolonial, ia duduk sebagai anggota DPR pada periode 1967-1969.
Menjadi wakil rakyat di DPR rupanya merupakan karier politiknya yang terakhir. Daan Jahja memutuskan mundur dari pentas perpolitikan nasional seiring runtuhnya rezim Orde Lama. Hingga akhirnya, Brigjen H. Daan Jahja, Gubernur Militer Jakarta pertama dan satu-satunya itu wafat pada tanggal 20 Juni 1985 tepat pada saat Indul Fitri 1405. Ia wafat sepulang dari Masjid Sunda Kelapa, Jakarta setelah melaksanakan salat Ied.
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
Sumber :
Sopandi, Andi. Triono. Hamluddin. (2019). Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa Ke Masa. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Wikipedia.com. 19 Oktober 2023. Daan Jahja. Diakses pada 12 Januari 2024, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Jahja
Nasional.sindonews.com. 28 Oktober 2023. Profil Daan Jahja, Jenderal TNI yang Memimpin Pemuda Culik Moh Hatta ke Rengasdengklok. Diakses pada 12 Januari 2024, dari https://nasional.sindonews.com/read/1237071/14/profil-daan-jahja-jenderal-tni-yang-memimpin-pemuda-culik-moh-hatta-ke-rengasdengklok-1698441027
Tirto.id. 20 Juni 2019. Daan Jahja : Sejarah Hidup & Heroisme Gubernur Militer Jakarta. Diakses pada 12 Januari 2024, dari https://tirto.id/daan-jahja-sejarah-hidup-heroisme-gubernur-militer-jakarta-crCe
2023 menjadi tahun penuh warna bagi perjalanan Perpustakaan Jakarta Pusat – Petojo Enclek, Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Pusat dalam memberikan pelayanan kepada Masyarakat. Betapa tidak, 2023 merupakan tahun perdana dimana seluruh aktivitas perlahan mulai kembali normal setelah masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) resmi dicabut dan masuk kepada era kenormalan baru. Untuk itu, Perpustakaan Jakarta Pusat mulai Kembali aktif menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat, mulai dari siswa sekolah, warga di tiap kelurahan wilayah Jakarta Pusat, dan seluruh elemen terkait.
Sepanjang tahun 2023, telah ada banyak kegiatan pembudayaan minat baca dan literasi yang dilaksanakan, sebut saja Ketupat Betawi (Wisata Literasi) sebanyak 96 kegiatan, Roadshow Workshop Membaca di 24 lokasi, Pemberdayaan Duta Baca sebanyak 16 kegiatan, Bimbingan Teknis bagi Pengelola Perpustakaan Sekolah SD dan SMP dengan melibatkan tidak kurang dari 300 tenaga pengelola perpustakaan baik sekolah maupun perpustakaan umum, Hari Anak Jakarta Membaca yang dilaksanakan guna mewadahi Masyarakat sekolah untuk aktif berkegiatan positif melalui lomba-lomba seperti Lomba Bercerita, Mewarnai, Puisi, Membuat Komik dan Lomba Menulis. Selain itu, di tahun ini juga ada pelaksanaan lomba Perpustakaan Sekolah SD dan SMP terbaik, Bunda Literasi, Baca Jakarta yang melibatkan tidak kurang dari 3000 peserta sepanjang tahun, IKRA, Perpustakaan Keliling dan Akreditasi Perpustakaan.
Sepanjang 2023 pula, Perpustakaan Jakarta Pusat telah berkolaborasi dengan berbagai komunitas literasi seperti Aio Dongeng Indonesia baik melibatkan pendongeng nasional maupun internasional seperti pendongeng dari Filipina, Simone Sales dan Priyanka Chatterjee dari India dalam rangka Peringatan Hari Anak Internasional. Perpustakaan Jakarta Pusat juga berkolaborasi dengan FGL (Fun Garden Literacy) bersama Kak Palupi dan Tim, Para pegiat literasi seperti Kang Didin dan Tim, yang bukan hanya mengedukasi tapi juga memberi beragam hiburan dengan tetap menyisipkan pelajaran di dalamnya.
Selain kegiatan literasi, Perpustakaan Jakarta Pusat juga mengupayakan peningkataan kompetensi pengelola perpustakaan dengan cara memberikan bimbingan teknis, pembinaan perpustakaan, pelatihan dan penyuluhan yang melibatkan para praktisi, akademisi dan narasumber yang kompeten di bidangnya seperti pustakawan dari Perpustakaan Nasional, Dosen PG-PAUD yang juga merupakan Duta Baca Jakarta Pusat periode 2023, praktisi bidang gizi dan Kesehatan, penulis, editor, pimpinan redaktur, dunia penerbitan, akademisi kewirausahaan, public speaker, konselor, dan banyak lainnya sesuai dengan tema acara yang disajikan. Peringatan Bulan Bahasa pada Oktober lalu, Perpustakaan Jakarta Pusat juga turut berkolaborasi dengan Duta Baca Indonesia, Gol a Gong yang didampingi oleh Duta Baca Jakarta Pusat, Kak Cahyo pada kegiatan Lokalatih Ekspresi Kreativitas Kegiatan Mendongeng untuk Anak Menggunakan Media Bigbook yang turut dihadiri oleh Bunda Literasi Jakarta Pusat, Ibu Ucu Jamilah Sukma.
Sebagai penutup tahun, Perpustakaan Jakarta Pusat di tahun ini juga melaksanakan kegiatan Re-Akreditasi Perpustakaan yang sebelumnya telah dilaksanakan pada 2015 dengan predikat B. Didampingi oleh tim dari Perpusnas RI dan Pustakawan Madya Dispusip Provinsi DKI Jakarta pada persiapan yang dilakukan sejak Oktober lalu, predikat A berhasil diraih oleh Perpustakaan Jakarta Pusat pada visitasi yang dilakukan oleh Tim Asesor Perpusnas RI pada Senin (11/12) lalu dan tertuang dalam Berita Acara Hasil Visitasi. Hasil yang diraih oleh segenap Tim Perpustakaan Jakarta Pusat ini tentu juga menjadi lecutan semangat bagi kami agar semakin baik setiap harinya.
Tentu sudah begitu banyak kegiatan literasi dan pembudayaan kegemaran membaca yang telah diselenggarakan oleh Perpustakaan Jakarta Pusat. Peran yang dijalankan selama satu tahun ini, diharapkan dapat memberi begitu banyak pengetahuan, pemahaman baru, motivasi dan menjadi pendorong bagi para generasi sekaligus pendidik generasi untuk terus berkreasi, berimajinasi, mengasah kemampuan berpikir kritis, dan berperan aktif agar nantinya anak-anak generasi bangsa ini mampu terus bersaing dan memiliki bekal yang dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan karya-karya terbaik dan bermanfaat bagi bangsa.
Dari seluruh rangkaian kegiatan di sepanjang tahun 2023, tentu ada pelaksanaan-pelaksanaan yang perlu disempurnakan agar semakin dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Untuk itu setiap evaluasi yang dilakukan, diharapkan dapat menjadi penyempurna sekaligus masukan agar dalam pelaksanaan pada kegiatan mendatang dapat semakin baik dan berdampak semakin luas bagi Masyarakat Jakarta Pusat khususnya dan Warga DKI Jakarta pada umumnya.
Terima kasih kepada seluruh warga Jakarta yang telah berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan literasi. Terima kasih telah menjadi bagian dari kami untuk terus belajar dan bertumbuh. Terima kasih telah berperan dalam segenap upaya kami untuk menciptakan atmosfer yang mendukung peningkatan budaya baca, sehingga daya baca masyarakat juga semakin bergerak maju.
Selamat memasuki tahun yang baru. Semoga 2024 membawa banyak perubahan dan sinergi positif yang membangun untuk Jakarta yang semakin baik. Sukses Dispusip untuk Jakarta, Sukses Jakarta untuk Indonesia!(RK)
Rahmatul Karimah
Pustakawan Perpustakaan Jakarta Pusat – Petojo Enclek
Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Pusat
DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA – Raden Soewirdjo lahir di Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, 17 Februari 1903 dan meninggal di Jakarta, 27 Agustus 1967 pada umur 64 tahun. Soewirdjo adalah seorang tokoh pergerakan Indonesia dan pernah menjabat sebagai Wali Kota di Kotapradja Jakarta yaitu’ Masa Jabatan I periode 23 September 1945 - November 1947, kemudian menjabat Kembali pada Masa Jabatan II, periode 17 Februari 1950 - 02 Mei 1951.
Proses Soewirdjo menjabat sebagai Wali Kota dimulai pada bulan Juli 1945 di masa pendudukan Jepang. kala itu Soewirdjo menjabat sebagai wakil wali kota pertama Jakarta, sedangkan yang menjadi wali kota adalah seorang pembesar Jepang bernama Tokubetsyu Sityo, dan Wakil Walikota kedua adalah Baginda Dahlan Abdullah. Dengan kapasitasnya sebagai Wakil Walikota, secara diam-diam Soewirdjo melakukan nasionalisasi pemerintahan dan kekuasaan Kota Jakarta.