DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA - Forum Diskusi Meja Panjang yang kelima sukses digelar di Lantai 5 Perpustakaan Jakarta, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta pada Jumat (29/09/2023). Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara komunitas sastra, lembaga sastra, dan pemerintah, diwakili oleh komunitas Dapur Sastra, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta melalui bagian Perpustakaan Jakarta, serta Pusat Dokumen Sastra (PDS) HB Jassin.
Diskusi Meja Panjang yang Kelima ini menjadi ajang penting untuk memperkuat kerja sama di antara para pemangku kepentingan sastra. Acara ini dihadiri oleh berbagai pembicara yang memiliki pemahaman mendalam tentang isu-isu yang dibahas dalam diskusi ini.
Salah satu pembicara utama, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Drs. Firmansyah, M.Pd, menjelaskan pentingnya mengaktifkan komunitas-komunitas sastra dalam kegiatan sastra. Beliau menggarisbawahi peran Dispusip dalam memfasilitasi perkembangan sastra dengan menggandeng berbagai komunitas.
"Atas kita bergandengan tangan, jadi semua komunitas kita aktifkan semampu kami dari Dispusip bagaimana kita memfasilitasikan sampai kan saja ke kita, bicara nanti ketuk palu di sana dikasih porsinya berapa, tapi apa pun itu jangan jadi penghambat untuk pengembangan sastra ke depan," ucap Drs. Firmansyah, M.Pd.
Sementara itu, Ahmadun Yosi Herfanda, mantan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, memberikan pandangan tentang peran penting pemerintah dalam mendukung sastra.
Herfanda menekankan bahwa dana publik seharusnya digunakan untuk memberdayakan sastra dan komunitas sastra.
"Sudah menjadi kewajiban lembaga pemerintah mendukung komunitas sastra karena sumber daya publik berperan dalam pengembangan sastra, terutama komunitas sastra," ujar Herfanda.
Anton Kurnia (Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta), berbicara tentang pentingnya memperkuat komunitas sastra dengan menyediakan akses terhadap pustaka yang mutakhir, mudah diakses oleh masyarakat, dan berkelanjutan. Proses kreatif para penulis sastra sangat bergantung pada bacaan yang kaya dan beragam.
"Salah satu upaya penting dalam penguatan sastra adalah akses terhadap pustaka. Proses kreatif kreator karya sastra dan sastrawan ditunjang oleh bacaan yang luas dan beragam. Oleh karena itu, penting diupayakan penyediaan bacaan yang up to date, mudah diakses oleh publik, dan berkesinambungan," jelas Anton Kurnia.
Tidak kalah menarik, Nuyang Jaimee, seorang penggiat komunitas sastra, menjelaskan pentingnya eksistensi komunitas sastra dalam pengembangan sastra.
Beliau menyatakan bahwa komunitas sastra menjadi basis yang kuat untuk pengembangan sastra, bukan hanya di Jakarta dan Jabodetabek, tetapi juga di seluruh Indonesia.
"Keberadaan komunitas sastra itu sangat penting karena pertumbuhan komunitas sastra itu tidak bisa dipungkiri menjadi basis yang sangat kuat untuk pengembangan sastra yang saya pikir bukan hanya di Jakarta dan Jabodetabek tapi juga di Indonesia," kata Nuyang Jaimee, satu-satunya pembicara wanita dalam forum ini.
Forum ini dipandu oleh Romo Marthin dan dihadiri oleh banyak mahasiswa dari Politeknik Jakarta, masyarakat umum, seniman, sastrawan, penyair, serta berbagai komunitas sastra di Jabodetabek.
Acara ditutup dengan sesi berfoto bersama antara pembicara dan peserta forum, menandai kesuksesan Forum Diskusi Meja Panjang yang Kelima ini dalam memperkuat komunitas sastra dan mendukung perkembangan sastra di Indonesia.
Reporter: Azhiim Pontoh
Editor: Brilliant Dwi Izzulhaq