Peringati Hari Pahlawan, Mengenali Kiprah Pahlawan Perempuan dalam Sejarah Bangsa
Thian Wisnu Isnanto Dilihat sebanyak 8x

Peringati Hari Pahlawan, Mengenali Kiprah Pahlawan Perempuan dalam Sejarah Bangsa
Laksamana Malahayati
Cut Nyak Meutia
Raden Adjeng Kartini
Dewi Sartika
Nyi Ageng Serang
Martha Christina Tiahahu

DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA - Setiap tahun, Indonesia merayakan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November. Menjadi momentum penting yang mengingatkan kita akan perjuangan para tokoh pahlawan yang berjasa bagi bangsa. Dalam sorotan peringatan ini, mari kita kenali lebih dekat beberapa pahlawan perempuan yang dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak bangsa dan kaumnya. Mereka adalah sosok-sosok yang tak kenal lelah dan berjasa besar bagi Indonesia yang merdeka.

Laksamana Malahayati

Pertama, kita mengenang Laksamana Malahayati, pejuang asal Kesultanan Aceh. Lahir di Aceh Besar pada tahun 1550, Malahayati memimpin pasukan Inong Balee yang terdiri dari janda-janda pahlawan yang telah syahid. Mereka melawan kapal dan benteng Belanda, bahkan berhasil membunuh Cornelis de Houtman pada peristiwa bersejarah pada 11 September 1599. Malahayati gugur pada tahun 1615 ketika melindungi Teluk Krueng Raya dari serangan Portugis.

Cut Nyak Meutia

Dari Aceh juga lahir seorang pejuang perempuan bernama Cut Nyak Meutia. Awalnya, ia bersama suaminya, Teuku Muhammad, melawan Belanda. Namun, setelah suaminya gugur pada tahun 1905, Cut Nyak Meutia kemudian melanjutkan perjuangan bersama Pang Nanggroe, yang kemudian gugur pada 26 September 1910. Cut Nyak Meutia terus berjuang, namun takdir berkata lain, dan gugur pada 24 Oktober 1910.

Raden Adjeng Kartini

R.A Kartini, lahir di Jepara pada tahun 1879, dikenal sebagai perintis pendidikan untuk perempuan di Indonesia. Melalui surat-suratnya, beliau mengkritik budaya Jawa yang menghambat perkembangan perempuan. Hari kelahirannya, 21 April, kini dijadikan sebagai Hari Kartini untuk memperingati perjuangan Kartini dalam memajukan pendidikan perempuan di Indonesia.

Dewi Sartika

Dewi Sartika, lahir di Jawa Barat, mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan kaum perempuan. Ia mendirikan Sekolah Istri di Pendopo pada 16 Januari 1904, yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri dan kemudian Sekolah Raden Dewi. Atas dedikasinya, Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau dan diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966.

Nyi Ageng Serang

Dari Purwodadi, Jawa Tengah, lahir seorang pahlawan perempuan bernama Nyi Ageng Serang. Melibatkan diri dalam perlawanan melawan penjajah Belanda, Nyi Ageng Serang tetap memimpin pasukannya di usia 73 tahun, bahkan setelah kehilangan ayah, kakak, dan suami. Semangat juangnya membuatnya diakui oleh Pangeran Diponegoro sebagai salah satu penasihatnya.

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu lahir di Desa Abubu, Pulau Nusalaut, pada 4 Januari 1800. Sejak usia 17 tahun, ia telah menunjukkan keberaniannya dengan mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Tak hanya berjuang di medan pertempuran, Martha Christina Tiahahu juga menjadi sumber semangat bagi kaum perempuan, mengajak mereka untuk turut membantu para pejuang laki-laki di garis depan.

Mengenang jasa-jasa pahlawan perempuan merupakan bentuk penghargaan atas perjuangan mereka dalam membela tanah air. Kisah heroik mereka patut diabadikan sebagai inspirasi bagi generasi muda. Mari hargai peran besar para pahlawan perempuan Indonesia yang telah mengukir sejarah kemerdekaan.

Penulis: Afifa Marwah
Editor: Brilliant Dwi Izzulhaq


perpustakaan jakarta PDS HB Jassin