DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA - Pelayaran dan perdagangan internasional melalui Selat Malaka berlangsung sejak abad 1 Masehi. Orang-orang India pun ikut berdagang sekaligus menyebarkan agama Hindu dan kemudian bertemu dengan orang-orang dari kepulauan Indonesia.
Dengan adanya kontak ini, lambat laun terjadi proses akulturasi antara masyarakat yang tinggal di daerah Jakarta dan orang-orang India, seperti munculnya bentuk pemerintahan yang berbentuk kerajaan yang bernama kerajaan Taruma yang dipimpin oleh Maharaja Purnawarman sejak pertengahan abad ke-5. Nama kerajaan dan nama rajanya dapat diketahui dari sejumlah prasasti yang banyak terdapat di daerah Bogor, dan salah satunya ada di Jakarta Utara (Cilincing) disebut prasasti Tugu, prasasti ini menggunakan huruf Palawa dan Sansekerta. Meskipun tidak ada tahun dan hanya berdasarkan pada palaeografi, para ahli memperkirakan prasasti tesebut berasal dari pertengahan abad ke-5 dan merupakan prasasti tertua di Pulau Jawa (Vogel, 1925).
|
Gambar 2.1 - Prasasti Tugu, salah satu peninggalan kerajaan Tarumanagara
|
| Gambar 2.2 - Prasasti Ciaruteun, salah satu peninggalan kerajaan Tarumanagara |
Keberadaan prasasti tersebut tidak lepas dari keberadaan kerajaan Tarumanagara yang berdiri sejak abad ke-5. Prasasti itu ditulis menggunakan bahasa Sansekerta, yakni bahasa yang hanya dikuasai dan digunakan kaum Brahmana. Intisari yang tedapat pada prasasti tersebut adalah : Dahulu atas perintah Rajadhiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, dilakukan penggalian di sungai Chandrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian dimulai dari hari kedelapan bulan gelap Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan caitra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur (tumbak) melampaui asrama pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para Brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi (Muljana, 1980:19).
Jika prasasti tersebut ditulis dengan bahasa Sansekerta, lalu bagaimana bahasa yang digunakan dalam pergaulan masyarakat umum Jakarta? Jika dikaitkan dengan pendapat mengenai teori penyebaran bahasa Melayu seperti dari collin (1996, 2005) dan Nothofer (1996), maka dapat dikatakan yang digunkan adalah bahasa Melayu. Oleh karena bahasa Melayu adalah lingua franca dalam perdagangan, dapat dikatakan bahwa penduduk di pelabuhan Jakarta tentu berbahasa Melayu, sama seperti dengan penduduk di pelabuhan-pelabuhan lain.
Keberadaan kerajaan Tarumanagara pun semakin diperkuat dengan ditemukannya barisan candi di daerah perbatasan antara kabupaten Bekasi-Karawang, tepatnya di desa Batujaya dan desa Cibuaya yang pertama kali ditemukan oleh tim arkeolog Fakultas Sastra Universitas Indonesia sekitar tahun 1984 yang kemudian dipugar pada tahun 1996. Menurut beberapa para ahli, kerajaan Tarumanagara sudah lenyap sekitar akhir abad ke-7 dan ke-8 yang mungkin karena ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya atau sebab lain yang tidak diketahui, namun keberadaanya masih ada hingga abad ke-10. Menjelang keruntuhan kerajaan Tarumanagara, di Jawa Barat terdapat 2 kerajaan besar yakni kerajaan Galuh (abad ke-8 masehi) dan kerajaan Sunda Padjajaran (abad ke-14 masehi) (Rohaedi, 1975:31).
|
Gambar 2.3 - Candi Batujaya, Karawang
|
| Gambar 2.4 - Candi Cibuaya, Karawang |
Penulis & Editor : Tim Publikasi Kearsipan
Sumber : Sopandi, Andi. Triono. Hamluddin. (2019). Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa Ke Masa. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.