Jakarta Utara (14/09/2026) — Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik khususnya dalam menumbuhkan budaya gemar membaca, pemerintah hadir melalui berbagai langkah strategis untuk memperkuat kesadaran literasi. Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Utara yang diberi amanah oleh Wali Kota Jakarta Utara dalam setiap pekan menyelenggarakan Pentas Literasi pada Senin, 14 September 2026 bertema “Kenali Budaya Betawi : Sejarah Betawi Pesisir” berkolaborasi dengan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Utara diikuti oleh 30 Pelajar SMP Fikri yang bertempat di Kantor Walikota Jakarta Utara tepatnya Pojok Baca Digital (POCADI) mulai pukul jam 08.00 sampai jam 10.00 WIB.
Kegiatan diawali dengan pengenalan Layanan Perpustakaan baik Perpustakaan Kota atau Perpustakaan Keliling, serta tata cara peminjaman buku dan berbagai agenda seru mencakup Baca Jakarta, Lomba Menulis, Bookcamp dan lainnya yang bisa diikuti pelajar. Aktivitas ini menjadi pintu masuk untuk mengenalkan perpustakaan sebagai ruang yang positif, fasilitas yang memadai, dan akses terbuka bagi siapapun.
Memasuki sesi materi, narasumber memberikan paparan tentang Sejarah dan Budaya Betawi di wilayah pesisir, mulai dari perkembangan masyarakat Betawi, keberagaman tradisi, kesenian, serta berbagai nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir Jakarta. Peserta diajak memahami bahwa kawasan pesisir memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah dan perkembangan budaya Betawi. Interaksi masyarakat pesisir dengan berbagai kelompok dari luar daerah turut membentuk karakter budaya yang beragam, adat, dan tradisi. Melalui pemaparan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sejarah budaya Betawi, namun diajak melihat pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Jakarta.
Selain membahas sejarah dan perkembangan budaya Betawi, peserta diajak memahami berbagai tradisi dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi, khususnya di kawasan pesisir. Suasana diskusi kian mencair ketika anak-anak mulai aktif berbagi cerita, menghubungkan materi pemateri dengan apa yang sering mereka lihat sehari-hari di sekitar lingkungan mereka—mulai dari dinamika kawasan pelabuhan hingga cerita turun-temurun di kampung halaman mereka. Obrolan kian seru saat narasumber menyinggung ikon lokal yang tak asing lagi bagi warga Jakarta Utara, seperti Cilincing ataupun situs-situs bersejarah pesisir lainnya. Dari sini, para peserta SMP menyadari bahwa budaya Betawi bukanlah sesuatu yang asing atau jauh dari jangkauan mereka, melainkan napas keseharian yang seringkali sudah ada di lingkungan sekitar dan sudah sepatutnya kita jaga bersama.
Sesi selanjutnya yakni kuis edukatif menjadi sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta. Alih-alih tegang layaknya ujian sekolah, kuis ini justru berubah menjadi ajang "siapa cepat dia dapat" yang diwarnai gelak tawa dan teriakan antusias khas pelajar SMP saat mencoba menebak pertanyaan seputar kebudayaan Betawi.
Di akhir kegiatan, seluruhnya melakukan foto bersama antara peserta, narasumber, dan panitia sebagai dokumentasi sekaligus penanda berakhirnya acara dalam mendukung peningkatan literasi di Jakarta Utara.