Angkatan

Dalam bahasa Inggris dan Francis disebut generation. Maksudnya adalah penamaan untuk kelompok sastrawan sepaham yang melakukan kegiatan, secara sadar atau tidak, dalam satu zaman yanq sama dan bertindak dalam satu kesatuan yang berpengaruh pada suatu masa tertentu. Secara umum, kelompok sastrawan itu menganut prinsip yang sama yang mendasari karyanya.

Menurut Jakob Sumardjo, kesadaran bersama untuk membentuk angkatan sastra di Indonesia memang tidak pemah muncul. Angkatan sastra Pujangga Baru agak mendekati adanya kesadaran kolektif semacam itu, tetapi lebih menitikberatkan kesadaran pembentukan kebudayaan baru daripada kesusastraan baru. Berbeda dengan Angkatan Pujangga Baru, angkatan-angkatan sastra yang lain muncul ketika para sastrawan secara pribadi menulis karya-karyanya pada suatu periode, dan para pengamat sastra kemudian melihat adanya beberapa kesamaan dasar penciptaan mereka.

Sumardjo menarnbahkan bahwa pembagian angkatan sastra dalam sejarah sastra modem Indonesia lebih-lebih ditentukan oleh kesamaan tahun kelahiran dan masa penulisan karya-karya mereka. Keadaan zaman dalam suatu periode ikut juga menentukan corak karya mereka. Inilah sebabnya setiap 10-15 tahun sekali selalu muncul penamaan angkatan sastra yang baru, sebab rata-rata para sastrawan Indonesia giat menulis karya sastra pada usia sekitar 20 sampai 30 tahun. Hanya beberapa sastrawan yang secara tekun tetap berkarya hingga usia lanjut. Beberapa nama pengamat sastra yang pernah mengajukan tentang adanya angkatan dan periodisasi di dalam sastra Indonesia antara lain adalah HB. Jassin, Buyung Saleh, Rosihan Anwar, Ajip Rosidi, Satyagraha Hoerip, Rachmat Djoko Pradopo, Abdul Hadi WM, Dami N. Toda, dan Korrie Layun Rampan.

X