Angkatan Balai Pustaka

Nama yang diberikan kepada sejumlah pengarang yang dianggap sangat produktif sekitar tahun 1920-an yang karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka. Di antara pengarang itu ialah Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Marah Rusli, Muhammad Kasim, dan Merari Siregar.

Puncak karya sastra zarnan ini adalah novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Karena itu, angkatan ini dinamakan juga dengan Angkatan Siti Nurbaya. Meskipun demikian, beberapa karya lain juga menonjol, misalnya Salah Asuhan karya Abdul Muis, serta Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Hasil karya sastra pada masa ini karena didominasi oleh para pengarang dari Sumatera, khususnya para pengarang dari Minangkabau, maka persoalan-persoalan yang dikemukakan sangat kental berwarna lokal Minangkabau. Hal-hal yang seringkali dipermasalahkan di dalam karya-karya mereka adalah persoalan adat yang kaku, keras, serta mengungkung kebebasan seseorang sebagai individu; tentang penindasan hak kaum perempuan melalui perilaku kawin paksa; serta kesewenangan kaum tua (adat) pada kaum mudanya. Angkatan ini disebut juga Angkatan 20-an.

Biografi Sastrawan Angkatan Balai Pustaka

Amir Hamzah

(1911-1946)

Klik - Biografi

Armijn Pane

(1908-1970)
Klik - Biografi

Asrul Sani

(1926-2003)
Klik - Biografi

Hans Bague Jassin

(1917-2000)
klik- Biografi

Marah Rusli

(1889-1968)
Klik - Biografi

M. Kasim

(1886-1973)
Klik - Biografi

Nur Sutan Iskandar

(1893-1975)
Klik - Biografi
Untuk melihat koleksi lebih lengkapnya silahkan berkunjung ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
X