Provinsi DKI Jakarta mencatat nilai IPLM sebesar 95,03 pada tahun 2025, meningkat dari 94,16 pada tahun 2024. Capaian ini menunjukkan kategori sangat tinggi dan mencerminkan keberhasilan pembangunan literasi masyarakat yang didukung oleh layanan perpustakaan, koleksi, tenaga, kunjungan, keterlibatan masyarakat, dan keanggotaan. Wilayah dengan nilai tertinggi adalah Kota Jakarta Timur (99,21), sedangkan wilayah yang memerlukan perhatian khusus adalah Kabupaten Kepulauan Seribu (89,79).
|
No |
Unsur Pembangunan Literasi Masyarakat |
Nilai |
|
1 |
Pemerataan Layanan Perpustakaan (UPLM 1) |
0,0051 |
|
2 |
Ketercukupan Koleksi (UPLM 2) |
1,2048 |
|
3 |
Ketercukupan Tenaga Perpustakaan (UPLM 3) |
0,0077 |
|
4 |
Tingkat Kunjungan Masyarakat/Hari (UPLM 4) |
0,4035 |
|
5 |
Perpustakaan Ber-SNP (UPLM 5) |
3,7217 |
|
6 |
Keterlibatan Masyarakat (UPLM 6) |
0,4190 |
|
7 |
Anggota Perpustakaan (UPLM 7) |
0,8904 |
|
Wilayah |
Nilai IPLM |
|
Provinsi DKI Jakarta |
95,03 |
|
Jakarta Pusat |
95,12 |
|
Jakarta Utara |
95,22 |
|
Jakarta Barat |
95,03 |
|
Jakarta Selatan |
95,81 |
|
Jakarta Timur |
99,21 |
|
Kepulauan Seribu |
89,79 |
Secara umum, indikator UPLM 4, 5, 6, dan 7 menunjukkan performa yang baik dan melampaui standar minimal. Namun demikian, indikator ketercukupan koleksi dan pemerataan layanan masih memerlukan penguatan pada beberapa wilayah. Fokus kebijakan diarahkan pada peningkatan koleksi berbasis kebutuhan masyarakat, perluasan titik layanan, serta akselerasi pembinaan perpustakaan sesuai SNP. Rekomendasi strategis berdasarkan hasil kajian IPLM Provinsi DKI Jakarta tahun 2025 meliputi penguatan koleksi perpustakaan berbasis segmentasi wilayah dan kelompok usia, perluasan layanan perpustakaan digital dan layanan keliling, peningkatan pembinaan perpustakaan menuju standar SNP, serta penguatan program keanggotaan dan engagement masyarakat.