Pilah Sampah Hari Ini, Selamatkan Bumi Esok Nanti : Literasi dan Edukasi Pilah Sampah Bersama Perpustakaan Jakarta Selatan
Ruly Diah Kurniawati Dilihat sebanyak 15x

Pilah Sampah Hari Ini, Selamatkan Bumi Esok Nanti : Literasi dan Edukasi Pilah Sampah Bersama Perpustakaan Jakarta Selatan

Mulai 1 Agustus 2026, wajah pengelolaan sampah Jakarta berubah drastis. Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang resmi tidak lagi menerima sampah dalam kondisi tercampur. Hanya sampah residu yang benar benar sudah tidak bisa didaur ulang maupun diolah kembali yang boleh masuk ke Bantar Gebang. Kebijakan ini menjadi tamparan keras bagi seluruh warga untuk mengubah kebiasaan membuang sampah yang telah berlangsung puluhan tahun.
Perubahan besar ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga negara tanpa terkecuali perpustakaan. Perpustakaan Jakarta Selatan mulai menginisiasikan program literasi dan edukasi pilah sampah sebagai bentuk kontribusi nyata mendukung kebijakan pemerintah dan menyelamatkan pengelolaan sampah di Jakarta.

Kebijakan penghentian penerimaan sampah campur ini bermulai dari kondisi yang sangat mendesak. Setiap hari, Bantar Gebang menerima sekitar 7.000 hingga 7.500 ton sampah, setara dengan berat lebih dari 30 pesawat Boeing747 dalam kondisi penuh, sehingga gunungan sampah di lokasi tersebut telah mencapai batas ketinggian lebih dari 50 meter, setinggi belasan gedung dan sangat rawan longsor saat hujan deras. Kekhawatiran ini benar adanya pada 8 Maret 2026 terjadi longsor gunungan sampah zona IV TPST Bantar Gebang yang menewaskan beberapa korban jiwa. Tragedi ini menjadi bukti bahwa metode open dumping atau penimbunan terbuka yang selama puluhan tahun diterapkan sudah tak dapat digunakan.
Perpustakaan memiliki peran yang cukup strategis sebagai lembaga yang menjangkau semua lini usia, netral, dan dapat dipercaya masyarakat sebagai pusat edukasi. Perpustakaan memiliki posisi unik untuk untuk menjembatani kebijakan pemerintah dengan merubah kebiasaan sehari-hari warga. Ada beberapa alasan mengapa perpustakaan relevan mengambil peran dalam mendukung kebijakan pengelolaan Jakarta. Pertama, kebijakan membutuhkan perilaku, bukan sekedar aturan tertulis sahaja. Perubahan kebiasaan masyarakat memerlukan pendampingan intensif dan berkelanjutan, ini sesuatu yang bisa difasilitasi perpustakaan melalui program rutin. Kedua, perpustakaan menjangkau generasi muda sejak dini, sehingga anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak kecil akan membawa kebiasaan itu hingga dewasa dan budaya pilah sampah dapat tumbuh secara alamiah. Ketiga, perpustakaan memiliki ruang fisik yang bisa digunakan sebagai sarana dan prasarana praktik nyata memilah sampah, bukan hanya sekedar teori.

Dalam mewujudkan program literasi dan edukasi pilah sampah, Perpustakaan Jakarta Selatan mengusung pendekatan yang interaktif dan menyenangkan melalui metode story telling. Metode ini dipilih karena dianggap efektif untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan, khususnya mengenai pentingnya memilah sampah, kepada berbagai kalangan usia, terutama anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Melalui cerita yang dikemas secara kreatif, narasumber dapat menggambarkan dampak sampah terhadap lingkungan serta manfaat dari kebiasaan memilah sampah sejak dini dengan cara yang mudah dipahami dan tidak membosankan. Pendekatan naratif semacam ini juga membantu membangun kesadaran emosional peserta, sehingga pesan yang disampaikan lebih membekas dan berpotensi mendorong perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Selain story telling, Perpustakaan Jakarta Selatan juga menyelenggarakan kegiatan workshop yang dipandu langsung oleh narasumber yang kompeten di bidang pengelolaan sampah dan lingkungan. Dalam workshop ini, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak untuk praktik langsung dalam memilah sampah sesuai kategorinya, seperti sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya. Kombinasi antara story telling dan workshop ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih komprehensif, karena peserta mendapatkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis.
Langkah yang dilakukan Perpustakaan Jakarta Selatan ini memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang responsif terhadap isu-isu aktual kota, tidak hanya soal buku semata, tetapi juga soal keberlanjutan lingkungan tempat kita semua tinggal.

©️ 2026 Perpustakaan Jakarta Selatan

Penulis : Muhammad Febryansyah


Perpustakaan Wisata Literasi Literasi Lingkungan