Peringati Hari Kelahiran W.S. Rendra: Telusuri Jejak Karya Maestro Sastra Indonesia
Thian Wisnu Isnanto Dilihat sebanyak 944x

Peringati Hari Kelahiran W.S. Rendra: Telusuri Jejak Karya Maestro Sastra Indonesia

DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA - Pada 6 Agustus 2009, Indonesia kehilangan seorang maestro sastra yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia seni dan budaya, W.S. Rendra, atau akrab disapa si "Burung Merak." Dalam peringatan Hari Lahirnya, mari kita mengenang perjalanan hidup dan karya-karyanya yang menginspirasi.

W.S. Rendra, yang nama aslinya Willibrordus Surendra Broto, lahir di Solo pada 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya, seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik Solo, juga seorang dramawan tradisional, sementara ibunya adalah seorang penari serimpi di Keraton Surakarta. Masa kecil dan remaja Rendra dihabiskan di kota kelahirannya, mendalami kekayaan budaya Jawa.

Perjalanan di Dunia Sastra

Kiprahnya di dunia sastra dimulai pada tahun 1952, ketika beliau pertama kali mempublikasikan puisinya melalui majalah Siasat. Puisi-puisinya dengan cepat menarik perhatian dan menghiasi berbagai majalah pada masa itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Pada tahun 60-an dan 70-an, karya-karya Rendra terus dipublikasi di majalah.

Drama pertamanya, "Kaki Palsu," dipentaskan saat Rendra masih berada di SMP. Namun, kejayaan pertamanya datang melalui drama berjudul "Orang-Orang di Tikungan Jalan," yang meraih penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, ketika Rendra masih duduk di SMA. 

Penghargaan ini menjadi pemicu semangat Rendra untuk terus berkarya, mengekspresikan keprihatinan terhadap ketidakpedulian dan ketidakadilan melalui puisi-puisi penuh nilai dan moral.

Penghargaan dan Apresiasi

Karya-karya Rendra tidak hanya meraih pengakuan di dalam negeri, tetapi juga menembus kancah internasional. Banyak puisinya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India. 

Keaktifannya dalam berbagai festival internasional, termasuk The Rotterdam International Poetry Festival, The Valmiki International Poetry Festival, dan Berliner Horizonte Festival, memberikan kontribusi signifikan terhadap promosi sastra Indonesia di tingkat global.

Penghargaan yang diterima Rendra sepanjang kariernya adalah bukti pengakuan atas kehebatan dan kontribusinya dalam dunia seni. Mulai dari Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta pada tahun 1954, Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), hingga penghargaan bergengsi seperti Penghargaan Adam Malik (1989) dan The S.E.A. Write Award (1996), Rendra terus menunjukkan dedikasinya yang luar biasa.

Pakar sastra internasional, seperti Profesor Harry Aveling dari Australia dan Profesor Rainer Carle dari Jerman, telah memberikan perhatian dan penghargaan terhadap karya Rendra. Hal ini terbukti dengan terjemahan dan pembahasan karya-karyanya dalam tulisan-tulisan mereka, yang membantu mengangkat nama sastra Indonesia di mata dunia.

Keunikan Karya

Prof. A. Teeuw berpendapat dalam bukunya "Sastra Indonesia Modern II" (1989) bahwa Rendra tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok atau angkatan tertentu dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Ia memiliki kepribadian dan kebebasan artistiknya sendiri, menjadikannya figur yang unik dan tak terikat pada kategori tertentu.

Keaktifan Rendra dalam festival-festival internasional, seperti The First New York Festival Of the Arts, Spoleto Festival, dan Tokyo Festival, bukan hanya sebagai kebanggaan bagi Indonesia, tetapi juga memberikan dampak positif dalam mendekatkan seni dan budaya Indonesia dengan dunia.

W.S. Rendra meninggalkan warisan seni dan sastra yang akan tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi penerus. Peringatan atas Hari Lahirnya bukan hanya tentang mengenang seorang maestro, tetapi juga menegaskan bahwa karya-karyanya menjadi warisan abadi yang terus memberikan warna dan makna dalam perjalanan panjang sastra Indonesia.

Penulis: Afifa Marwah
Editor: Brilliant Dwi


perpustakaan jakarta PDS HB Jassin