Mengenal Jakarta Tempo Doeloe (Bagian 4: Masa Kerajaan Jayakarta)
Burhan Dilihat sebanyak 1.726x

Mengenal Jakarta Tempo Doeloe (Bagian 4: Masa Kerajaan Jayakarta)

DISPUSIP JAKARTA, INDONESIA - Situasi dan kondisi berubah saat Sunda Kalapa berhasil direbut oleh Fatahillah pada tahun 1527 dan masuknya agama Islam di pulau Jawa. Cirebon yang semula adalah pelabuhan kerajaan Sunda Pajajaran telah menjadi Islam, dan bergabung dengan kerajaan Islam Demak, begitu pula Banten di bawah Sultan Hasanuddin sudah menjadi kerajaan Islam.

Dibawah kepemimpinan Fatahillah (Falatehan atau Fadillah), serangan diluncurkan dari arah barat, dan berhasil mengenyahkan orang Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa. Menurut Soekanto (Ruchiat, 2011), peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 22 Juni 1527. Akan tetapi ada pendapat lain dari Prof. Hoesein Djajadiningrat, peristiwa itu terjadi pada akhir bulan Desember tahun 1526. Adanya perbedaan pendapat dari para ahli, maka dalam hal ini DPRD DKI Jakarta menetapkan 22 Juni sebagai hari ulang tahun DKI Jakarta.

Setelah merebut Sunda Kalapa, Fatahillah mengganti nama menjadi Jayakarta yang berarti ‘kemenangan’ atau ‘kesejahteraan mutlak’, nama ini terinspirasi dari ayat pertama surah Al-Fath (48) yang berbunyi “Inna Fatahna Laka Fathan Mubinaa..” yang berarti “Sesungguhnya kemenangan ini adalah kemenangan yang sempurna”, dan Fatahillah menamai dirinya “Fathan” (karena salah tulis dan salah dengar, oleh orang Portugis menjadi “Falatehan”).

 

Gambar 4.1 – Pemimpin Kerajaan Jayakarta, Fatahillah

 

kehidupan masyarakat mulai mengalami perubahan suasana keagamaan, yaitu dari agama Hindu ke agama Islam, yang merupakan satu perubahan besar dari agama Politeisme ke agama Monoteisme. Sejak merebut Pelabuhan Sunda Kalapa, pengaruh Islam semakin meluas di sekitar wilayah bekas kekuasaan Pajajaran. Fatahillah menguasai daerah Cisadane bagian barat, Citarum sebelah timur, dan beberapa pulau di sebelah utara dan sebelah selatan serta bagian-bagian wilayah kekuasaan Pajajaran.

Adanya pernikahan antara seorang putri Maulana Hasanuddin dengan Tubagus Angke dan antara putri Sultan Abulma’ali Ahmad dengan pangeran Wijayakrama (Bupati Jayakarta), membuat hubungan antara Jayakarta dengan Banten sangat baik dan dalam hal ini Jayakarta dianggap bagian dari Kesultanan Banten (Tjandrasasmita, 1967). Setelah Fatahillah meninggal, tampuk kepemimpinan diserahkan kepada Tubagus Angke dan terakhir kepada pangeran Jayakarta Wijayakrama (Djakarta Raja, 1958).